"Satu megawatt daya terpasang pada pusat data membutuhkan sekitar 20 hingga 40 metrik ton tembaga. Ekspansi infrastruktur pusat data berbasis AI dipastikan menyuntikkan tambahan permintaan tembaga secara signifikan, berjalan seiring dengan arus elektrifikasi dan transisi energi global," ujar analisis BMI.
Adapun, proyeksi kapasitas pembangunan pusat data periode 2026 hingga 2030 didominasi oleh sejumlah negara besar.
Amerika Serikat (AS) memimpin secara signifikan dengan kapasitas proyek yang direncanakan (planned) mendekati 12.000 MW dan proyek yang sedang dibangun (under construction) sekitar 3.000 MW.
Malaysia menempati urutan berikutnya dengan proyek yang direncanakan sekitar 3.000 MW dan konstruksi 2.000 MW.
Selanjutnya, India mencatatkan proyek yang direncanakan sekitar 3.000 MW dan konstruksi 1.500 MW, Arab Saudi memiliki proyek yang direncanakan sekitar 3.000 MW dan konstruksi 600 MW, serta Indonesia mencatatkan proyek yang direncanakan sekitar 2.500 MW dan konstruksi 500 MW.
Transisi Energi
Selain sektor pusat data, lonjakan permintaan tembaga juga ditopang oleh percepatan transisi energi dan industri otomotif.
Data International Energy Agency (IEA) menunjukkan satu unit kendaraan listrik berbasis baterai membutuhkan sekitar 53,2 kg tembaga, atau jauh lebih tinggi dibandingkan dengan mobil konvensional yang hanya memerlukan 22,3 kg tembaga.
Pada pembangkit listrik, fasilitas tenaga angin lepas pantai (offshore wind), angin darat (onshore wind), dan panel surya masing-masing membutuhkan tembaga sebanyak 8.000 kg/MW, 2.900 kg/MW, dan 2.822,1 kg/MW.
“Angka tersebut jauh melampaui kebutuhan pembangkit listrik tenaga batu bara yang hanya memerlukan 1.150 kg tembaga per MW,” ungkap riset BMI.
Risiko Dua Arah
Meski prospek permintaan menguat pada kuartal I hingga kuartal IV, BMI Research mengidentifikasi sejumlah risiko dua arah terhadap pergerakan harga tembaga di tengah gejolak geopolitik dan makroekonomi.
"Dari sisi risiko penurunan, harga tembaga dapat merosot jika momentum ekonomi global melemah lebih tajam dari perkiraan pada 2026, terutama jika konflik AS-Iran yang berkepanjangan, tingginya harga energi, dan kondisi keuangan yang ketat menekan aktivitas industri secara signifikan," tulis BMI Research.
Sebaliknya, potensi kenaikan harga masih terbuka apabila terjadi gangguan pasokan tambang atau lonjakan permintaan mendadak dari sektor pemulihan ekonomi.
"Dari sisi risiko kenaikan, gangguan pasokan yang tidak terduga, lambatnya pemulihan operasional pada tambang-tambang yang terdampak insiden pada 2025, serta penurunan produksi tembaga murni China berpotensi mendorong harga naik lebih tinggi," tambah BMI Research.
Di dalam negeri, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia secara terbuka mengajak investor untuk membangun pusat data di Indonesia. Langkah ini dilakukan sebagai upaya menambah data center di Tanah Air.
Menurut dia, para penanam modal ini tidak perlu ragu memilih RI sebagai tempat untuk berinvestasi karena masih banyak wilayah di Indonesia yang bisa dijadikan lokasi pembangunan.
"Data center kita sedang mendorong untuk di Indonesia agar dilakukan penambahan. Bapak Ibu semua tidak perlu ragu, para investor, kalau membangun data center di Indonesia. Wilayah kami ini yang terbesar di kawasan Asia Tenggara. Pulau kami masih terlalu banyak," ujar Bahlil dalam acara Electricity Connect 2026 di ICE BSD City, Selasa (22/9/2026).
Bahlil menjamin pasokan listrik ke pusat data tidak perlu diragukan. Bahlil memastikan PLN akan menyiapkan berapapun kebutuhan para investor pusat data ini.
"Menyangkut listriknya saya pikir enggak ada masalah. Begitu mereka menyampaikan keinginannya, terus ditambah berapa kapasitas kebutuhan listrik yang dibutuhkan, pasti PLN akan menyiapkan," ujar Bahlil.
Bahkan, Menteri ESDM itu mengatakan pasokan energi bisa berasal dari sumber lain seperti matahari, air, panas bumi, angin, dan lain-lain.
Bermodalkan hal tersebut, Bahlil menjamin harga pasokan listrik ke pusat data ini bisa jauh lebih kompetitif dibanding negara lain.
"Saya yakinkan kepada teman-teman bahwa harga kita akan jauh lebih kompetitif ketimbang produksi listrik dari negara-negara yang lain. Kita akan memberikan kemudahan-kemudahan bagi Bapak-Ibu semua," ujar Bahlil.
Untuk diketahui, berdasarkan data Asosiasi Penyedia Data Center Indonesia (IDPRO) kapasitas pusat data Indonesia ditargetkan bakal mencapai 1,65 gigawatt pada akhir tahun ini. Saat ini, kapasitas data center di dalam negeri baru mencapai 637,24 megawatt.
IDPRO juga mencatat bahwa pusat data di Indonesia melonjak drastis dalam beberapa waktu terakhir. Beberapa faktor pendorong itu di antaranya karena adanya penetrasi internet, transformasi digital UMKM, hingga penggunaan AI.
(smr/wdh)





























