Risiko Global Belum Reda, Rupiah Bertahan di Rp17.900/US$
Tim Riset Bloomberg Technoz
14 October 2026 15:34

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah ditutup melemah pada perdagangan Rabu (14/10/2026) ke Rp17.900/US$, dipicu sejumlah tekanan domestik dan tingginya harga minyak mentah yang bertahan di US$105,72/barel.
Dari Asia, pergerakan mata uang sebenarnya relatif beragam. Won Korea Selatan bahkan bisa melesat 0,46%, diikuti rupee India, dolar Taiwan, baht Thailand, ringgit Malaysia dan dolar Hong Kong. Tapi, rupiah tidak melemah sendirian sore ini. Sejalan dengan rupiah, dolar Singapura juga terpangkas bersama peso Filipina dan yen Jepang.
Penguatan sebagian mata uang kawasan ditopang oleh meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed di tahun 2027. Pelaku pasar memperkirakan The Fed hanya akan menaikkan Fed Fund Rate (FFR) hanya sekitar satu kali lagi di tahun ini, sementara di tahun depan The Fed memperkirakan tidak ada kenaikan, setidaknya di semester awal.
Dari pasar obligasi global ekspektasi ini membawa yield US Treasury terpangkas 1,5 bps jadi 5,19%, diikuti penurunan yield di obligasi Jepang ke 2,98% (10,8 bps), Inggirs ke 5,38% (-5,8 bps), Prancis 4,8% (-2,6 bps), China 1,64% (-0,8 bps). Meredanya tekanan obligasi global merembet pada aset rupiah.
Yield surat utang negara (SUN) siang ini terpangkas, khususnya di tenor pendek. Yield tenor 2 tahun paling banyak terpangkas 8,4 basis poin (bps) jadi 6,7%, tenor 3 tahun menyusul dengan penurunan yield 5,7 bps ke 6,86%. Sedangkan tenor 1 tahun turun 3,2 bps menjadi 6,65%.




























