Perusahaan tersebut beralamat di Gandasari Tower, Kebayoran Lama, Jakarta.
Nama gedung tersebut yang kemudian mengarahkan penelusuran ke PT Gandasari Group Investama.
Masih mengutip situs ahu.go.id, Gandasari Group juga dimiliki oleh beneficial owner yang sama, Haji Andy, meski ada pemilik manfaat akhir yang lain, yakni Maima Wardha Syakhroza, putri dari Inspektur Jenderal Kementerian ESDM era Ignatius Jonan, yakni Akhmad Syakhroza.
Meski baru di bursa saham, namun pergerakan Haji Andy sudah terlihat setidaknya sejak 2010, tepat ketika Gandasari Group berdiri.
Arah Haji Andy
Lo Kheng Hong sebelumnya memiliki sekitar 101,81 juta atau setara 5,82% saham MBSS. Pada 2021, pria dengan sapaan LKH ini melepas hampir seluruh kepemilikannya dan mengantongi dana segar Rp67,19 miliar.
Saat mengambil alih MBSS, Haji Andy merogoh kocek Rp4,21 triliun untuk 82,5% atau 1,44 miliar saham. Sehingga, nilai transaksinya kala itu sekitar Rp2,914,25/saham.
Per Jumat (9/10/2026), harga saham MBSS menguat 600 poin atau setara 15% ke level Rp4.600/saham. Jika Haji Andy menjualnya di harga ini, maka ia akan mendapat dana segar sekitar Rp6,64 triliun, cuan lebih dari Rp2 triliun sejak dirinya mengakuisisi MBSS.
Di atas kertas, cuan yang diperoleh Haji Andy jauh melampaui Lo Kheng Hong. Namun, bukan ini tujuan Haji Andi.
Informasi yang beredar di pelaku pasar menyebut, melalui Gandasari Group, Haji Andy memiliki sekitar 180 kapal. Ratusan kapal ini yang kemudian akan diintegrasikan ke MBSS, sehingga Gandasari bakal memiliki ekosistem bisnis yang lebih besar.
Isu tersebut pula yang membuat harga saham MBSS melesat lebih dari 81% dalam tiga bulan perdagangan terakhir, melampui kenaikan sejak awal tahun (ytd) yang sebesar 46,96%.
Pergerakan itu juga yang membuat BEI meminta penjelasan manajemen MBSS, baik terkait fakta material yang bisa mempengaruhi pergerakan harga saham rencana aksi korporasi dalam tiga bulan ke depan.
Dalam surat balasan ke BEI, Corporate Secretary MBSS Rama Urip Nugraha mengaku tidak mengetahui adanya informasi atau fakta material yang dapat memengaruhi harga saham.
"Dalam jangka waktu tiga bulan mendatang, perseroan [juga] tidak memiliki rencana korporasi yang akan berakibat terhadap pencatatan saham perseroan," ujar Rama.
Meski demikian, Rama memastikan jika pemegang saham pengendali MBSS tidak memiliki rencana apa pun untuk mengubah porsi kepemilikannya.
"Berdasarkan informasi yang kami terima, pemegang saham utama dalam waktu dekat belum mempunyai rencana apapun terkait dengan kepemilikan saham di Perseroan. Perseroan akan menginformasikan kepada Bursa, OJK dan publik akan rencana Pemegang saham utama terkait kepemilikan saham di Perseroan, sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku."
Irisan Bisnis
Meski isu integrasi aset antara Gandasari Group dan MBSS belum terkonfirmasi, namun keduanya memiliki bisnis yang saling beririsan.
Melalui Gandasari Group, Haji Andy turut mengendalikan PT Gandasari Shipyard.
Perusahaan ini memiliki fasilitas galangan kapal di Banten dan Kepulauan Riau. Setelah tujuh tahun berdiri, Gandasari Shipyard telah membangun 185 kapal.
Selain galangan kapal, berikut bisnis milik Haji Andy di bawah bendera Gandasari Group:
- Gandasari Shipping Line
- Gandasari Shipyard
- Alfa Granitama (pertambangan)
- Atiga Sarana Daya (kontraktor)
- Gandasari Perkasa Mandiri
Gurita Bisnis Haji Andy
Mengutip situs gandasarigroup.com, Haji Andy memulai bisnisnya dari sebuah jasa bongkar muat.
Seiring berjalannya waktu, Haji Andy menjadikan Gandasari Group menjadi holding, dengan entitas usaha yang bergerak di banyak sektor.
Melalui gurita bisnis tersebut, Haji Andy terlibat dalam berbagai proyek strategis seperti pembangunan di Ibu Kota Nusantara (IKN) hingga proyek swasta Pantai Indah Kapuk.
Gandasari Group juga berkontribusi dalam perluasan terminal Bandara Seokarno-Hatta hingga kompleks petrokimia Lotte Chemical.
Di bisnis perkapalan, Gandasari membangun kapal patroli untuk Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur hingga pengalaman mengangkut bauksit milik Bintan Alumina menuju KEK Galang Batang, serta mengirimkan batu bara ke sejumlah PLTU seperti Sanggau, Lontar dan Tarahan Baru.
Sehingga, keputusan Haji Andy untuk mengakuisisi MBSS dinilai sebagai langkah strategis untuk memperluas sekala usaha di industri pelayaran nasional.
Akuisisi tersebut berpotensi mengerek kapasitas Wibowo Group Capital, baik dari sisi armada, jaringan operasional hingga pendapatan berulang.
(red)





























