Untuk 2032, BMI memperkirakan produksi nikel global mencapai 5,82 juta mt, sementara konsumsi mencapai 6,06 juta mt. Dengan demikian, pasar diperkirakan mengalami defisit sekitar 231.000 mt.
Konsumsi Global
Adapun, konsumsi nikel global diproyeksikan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan. BMI memperkirakan konsumsi mencapai 4,01 juta mt pada 2027, kemudian naik menjadi 4,25 juta mt pada 2028 dan 4,59 juta mt pada 2029.
Pertumbuhan konsumsi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong pasar menuju kondisi defisit.
Di sisi permintaan, sektor baja nirkarat masih menjadi penopang utama konsumsi nikel. BMI mencatat produksi stainless steel global tumbuh 5% secara tahunan pada paruh pertama 2026, dengan pertumbuhan di China, Asia dan Amerika Serikat (AS) mampu mengimbangi pelemahan produksi di sejumlah pasar lainnya.
Selain itu, transisi ke energi bersih juga berpotensi menjadi sumber tambahan permintaan nikel.
BMI menilai perkembangan teknologi energi bersih, termasuk kendaraan listrik atau electric vehicle (EV), sistem energi terbarukan, battery energy storage system (BESS), hingga komponen turbin angin akan meningkatkan kebutuhan nikel dalam jangka panjang.
Kendati begitu, BMI tetap melihat adanya tantangan dari perubahan teknologi baterai. Penggunaan lithium ferro phosphate (LFP) yang semakin luas mengurangi intensitas penggunaan nikel dalam baterai EV.
Di China, LFP telah mencakup 81,2% penjualan baterai EV pada 2025 dan mencapai 85,6% dari total pemasangan baterai kendaraan listrik pada Agustus 2026.
Meski demikian, BMI menilai baterai yang menggunakan nikel dalam jumlah tinggi masih akan mempertahankan perannya, terutama di Amerika Utara dan Eropa yang permintaannya lebih banyak berasal dari kendaraan dengan jarak tempuh panjang.
"Eskalasi geopolitik di Timur Tengah memiliki implikasi yang beragam terhadap prospek kami, karena gangguan rantai pasok yang memengaruhi produksi HPAL, bersama dengan meningkatnya biaya energi global, dapat memberikan dukungan kenaikan, sementara hambatan makroekonomi yang lebih luas, terutama perlambatan pertumbuhan global, dapat menekan permintaan," tegas BMI.
Dalam jangka panjang, Indonesia juga menjadi faktor penting bagi keseimbangan pasar nikel global. BMI menyebut laju ekspansi kapasitas nikel olahan Indonesia akan menentukan sejauh mana pasar global memiliki pasokan yang cukup dalam satu dekade mendatang.
"Dalam jangka menengah hingga panjang, Indonesia merupakan sumber utama ketidakpastian bagi pasar nikel olahan. Pada akhirnya, laju ekspansi kapasitas nikel olahan akan menentukan sejauh mana pasar global tetap memiliki pasokan yang memadai selama dekade mendatang," ungkap BMI.
Adapun, nikel dilego di harga US$15.553/mt di London Metal Exchange (LME) hari ini,turun 1,16% dari penutupan hari sebelumnya. Harga nikel sempat mencapai rekor di atas US$100.000/mt pada Maret 2022 akibat short squeeze pasar, tetapi sejak itu harga menurun tajam.
(azr/wdh)





























