Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Hari Ini Dapat Angin Segar, tapi Beban Domestik Mengintai

Tim Riset Bloomberg Technoz
09 October 2026 08:15

Karyawan menghitung rupiah di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan menghitung rupiah di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah hari ini masih mendapat tenaga untuk menguat di pasar spot, meski kemungkinannya relatif sangat terbatas. Penguatan rupiah ditopang oleh penurunan harga minyak usai pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengatakan tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu paruh waktu. 

Melansir data Bloomberg Jumat (9/10/2026), harga minyak Brent terpangkas 0,4% ke US$103,86/barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) turun 0,16% ke US$91/barel. Penurunan harga energi ini diikuti indeks dolar AS yang juga menyusut 0,02% ke 102,12. 

Meredanya tekanan harga minyak membawa sebagian mata uang Asia ke zona hijau meski penguatannya relatif terbatas. Baht Thailand menguat bersama won Korea Selatan, masing-masing 0,08%, ringgit Malaysia dan dolar Singapura menguat 0,07% dan 0,02%. Sebaliknya, yen Jepang pagi ini tergerus 0,13%. 


Sedangkan, rupiah hari ini di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) mulanya dibuka stagnan di level Rp17.935/US$. Namun, pada 07.30 WIB, rupiah bergerak melemah terbatas 0,03% ke Rp17.940/US$. 

Mata uang Asia pada Jumat (9/10/2026). (Bloomberg)

Ruang penguatan bagi mata uang Asia hari ini sebagian ditopang oleh meredanya tekanan di pasar obligasi global.