Logo Bloomberg Technoz

Yield US Treasury tenor 10 tahun turun 5,9 basis poin (bps) ke 5,22%, diikuti penurunan yield di pasar obligasi Jepang 5,1 bps jadi 3,02%, Australia turun 6,3 bps jadi 5,32%, Selandia baru turun 6 bps jadi 5,03%. Sementara, di China dan Korea Selatan relatif stabil di 1,67% dan 4,39% untuk tenor 10 tahun. 

Di pasar domestik, yield obligasi pemerintah RI berdenominasi dolar AS juga turun 3,6 bps jadi 6,24%. Namun, untuk obligasi rupiah masih tertekan dengan kenaikan yield 2,5 bps jadi 7,2% di tenor 10 tahun. 

Pergerakan yield global yang belum diikuti SUN menggambarkan adanya perbedaan persepsi investor soal risiko utang luar negeri dan tekanan yang masih membayangi pasar obligasi domestik. Agaknya investor masih meminta imbal hasil lebih tinggi untuk memegang aset berdenominasi rupiah. 

Jika tekanan yield US Treasury kembali terjadi, disertai adanya risiko geopolitik yang kembali mengerek harga minyak, premi risiko Indonesia berpotensi kembali diganjar lebih mahal dan membuat biaya pendanaan pemerintah meningkat, terutama saat menerbitkan surat utang baru untuk membiayai APBN dan membayar utang jatuh tempo. 

Terlebih, di pasar offshore rupiah belum sepenuhnya mendapat apresiasi pasar. Rupiah konsolidasi dengan bias pelemahan dipicu sentimen domestik. 

Salah satunya, pelemahan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) September turun menjadi 118,1 dari 118,5 pada Agustus. Keyakinan konsumen yang memudar ini menambah tantangan bagi prospek pertumbuhan ekonomi domestik. Apalagi pada kelompok pengeluaran rendah dan menengah keyakinan itu sudah retak. 

Jika pelemahan keyakinan ini berlangsung lebih lama, rumah tangga akan semakin berhati-hati dalam membelanjakan pendapatannya dan memilih menunda pembelian barang tahan lama dan membatasi akselerasi konsumsi. 

"Risiko ini semakin besar apabila melemahnya persepsi terhadap lapangan kerja mencerminkan penurunan perekrutan tenaga kerja secara aktual atau berkurangnya pendapatan rumah tangga," sebut Harry Su, Managing Director Research Samuel Sekuritas, dalam catatannya. 

Samuel Sekuritas mempertahankan prospek yang berhati-hati terhadap konsumsi rumah tangga hingga akhir 2026. Apalagi, Harry menilai percepatan inflasi menjadi 3,28% dari sebelumnya 3,19% berpontesi menekan daya beli dan membatasi dampaknya terhadap peningkatan belanja konsumen. 

Di tengah faktor dan sentimen yang berkelindan, rupiah hari ini diperkirakan konsolidasi di rentang Rp17.850-Rp17.950/US$. 

Analisis Teknikal

Secara teknikal nilai tukar rupiah sejatinya masih ada asa peluang menguat hari ini. biarpun lajunya sudah mulai dibatasi oleh sikap wait and see sejumlah sentimen yang ada.

Analisis Teknikal Rupiah Jumat 9 Oktober 2026 (Sumber: Bloomberg)

Adapun rupiah berpotensi menguat ke resistance terdekat pada level Rp17.850/US$, resistance potensial selanjutnya menuju Rp17.800/US$ sebelum break trendline sebelumnya, dan juga terdapat Rp17.700/US$ sebagai level paling optimistis penguatan rupiah di time frame daily, dalam tren jangka menengah (mid-term) perdagangan.

Selanjutnya nilai tukar rupiah memiliki level support terdekat pada level Rp17.910/US$. Apabila level ini berhasil tembus, maka mengonfirmasi support selanjutnya pada level Rp17.950/US$ sebagai support psikologis juga Rp18.000/US$.

(riset)

No more pages