Konsentrasi kapal di kawasan ini semakin parah akibat praktik shuttling trade, di mana minyak mentah dipindahkan ke kapal lain—yang enggan mengambil risiko melintasi Selat Hormuz—di Teluk Oman atau di titik-titik transshipment baru, seperti di lepas pantai barat India.
"Beberapa bulan terakhir ini merupakan periode terbaik sepanjang sejarah bagi tanker minyak mentah," ujar Georgios Sakellariou, analis angkutan Signal Ocean.
"Masalah utamanya adalah sistem pemindahan muatan antarkapal [ship-to-ship] di luar Selat Hormuz tidak efisien, dan hal ini benar-benar membebani ketersediaan kapal di wilayah tersebut maupun di tempat lain."
Data Signal Ocean menunjukkan jumlah VLCC kosong yang menuju pelabuhan-pelabuhan di Samudra Atlantik telah berkurang separuhnya dibandingkan dengan sebulan lalu.
Kelangkaan supertanker juga mengubah komposisi armada pengangkut minyak di wilayah lain, sehingga mendorong peningkatan jumlah kapal berukuran kecil yang tidak menikmati keuntungan dari skala ekonomi sebagaimana kapal-kapal tanker raksasa tersebut.
Sementara itu, para produsen minyak mentah di luar Timur Tengah—terutama di kawasan Amerika—masih mempertahankan tingkat produksi yang tinggi, meski arus minyak dari Teluk Persia mulai pulih. Semua ini menimbulkan efek domino di pasar angkutan minyak global, dan semakin mendongkrak tarif yang memang sudah tinggi.
Setidaknya satu kapal VLCC ditawarkan minggu ini untuk berlayar dari Teluk AS ke Jepang dengan potensi biaya rekor sebesar US$82 juta, atau lebih dari US$40 per barel. Angka ini mencerminkan kenaikan lebih dari 50% untuk rute tersebut dibandingkan dengan tiga minggu lalu.
Untuk rute pelayaran dari Teluk Persia ke Asia Timur, yang memakan waktu sekitar tiga minggu, tarif supertanker yang tercatat mencapai rekor tertinggi sepanjang masa hampir US$1,4 juta per hari pada Rabu.
Angka ini merupakan lonjakan hampir 540% sejak sebelum perang, dibandingkan dengan kenaikan harga minyak Brent sekitar 40% pada periode yang sama.
Kelangkaan dan tingginya tarif supertanker telah memicu peralihan ke kapal-kapal berukuran kecil seperti jenis Suezmax dan Aframax untuk rute di luar Timur Tengah.
Sejauh ini, sebagian besar kesepakatan pengangkutan minyak AS yang akan dimuat pada November ke Asia melibatkan kapal-kapal jenis tersebut, yang pada gilirannya turut menaikkan biaya sewanya.
"Kapal-kapal yang lebih kecil dari VLCC, yaitu Suezmax dan Aframax, juga tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan permintaan, sehingga saat ini benar-benar tidak ada pilihan alternatif yang lebih murah," kata pialang kapal Fearnleys dalam catatan pada Senin.
(bbn)





























