Logo Bloomberg Technoz

Antisipasi Harga

Di sisi lain, guna mengantisipasi fluktuasi harga global, Yayan merekomendasikan skema harga berbasis selisih (spread-based pricing).

Melalui skema ini, kontrak jangka panjang tidak mengunci harga mutlak, melainkan mengikat selisih harga terhadap patokan internasional seperti Brent atau Dubai/Oman.

“Cara ini sebenarnya sangat lazim di pasar komoditas global sekaligus efektif meminimalkan risiko sengketa pada kemudian hari,” tambahnya.

Yayan menambahkan perubahan strategi pengadaan dari pola spot-heavy menjadi portofolio terstruktur dinilai mendesak seiring dengan masih tingginya ketergantungan pasokan minyak mentah dari luar negeri.

Berdasarkan data Kementerian ESDM dan Badan Pusat Statistik (BPS), kebutuhan minyak mentah Indonesia untuk kilang dalam negeri mencapai sekitar 1,18 juta barel per hari (bph).  

Di tengah penurunan produksi siap jual (lifting) minyak domestik yang berkisar di angka 570.000—600.000 bph, Pertamina harus mengimpor minyak mentah sekitar 350.000—400.000 bph guna memenuhi kapasitas pengolahan kilang.

Apabila ditambahkan dengan produk bahan bakar minyak (BBM) jadi, total impor energi minyak Indonesia mencapai mendekati 1 juta bph.  

“Mengandalkan pembelian pasar spot untuk porsi impor yang besar membuat keuangan Pertamina maupun cadangan devisa negara rentan terhadap fluktuasi harga crude oil dan gejolak geopolitik,” ungkap Yayan.  

Menurutnya, langkah mengunci 60% pasokan impor—setara dengan kisaran 210.000 hingga 240.000 bph—lewat kontrak jangka panjang 1—3 tahun akan memberikan kepastian feedstock bagi kilang-kilang utama Pertamina. 

Ini mencakup Kilang RU IV Cilacap berkapasitas 348.000 bph dan Kilang RU V Balikpapan yang kini telah dinaikkan kapasitasnya menjadi 360.000 bph.   

Adapun, fleksibilitas volume sebesar 10% dalam kontrak jangka panjang penting untuk mengakomodasi jadwal perawatan berkala (turnaround) kilang maupun dinamika permintaan BBM domestik. 

“Toleransi ini mencegah Pertamina terkena penalti take-or-pay saat kapasitas olah kilang mengalami penyesuaian teknis,” katanya.

Sebelumnya, Kementerian ESDM mengakui Indonesia telah kehilangan sekitar 25% sumber impor minyak mentah, usai konflik antara Iran–Amerika Serikat (AS) pecah di Timur Tengah.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menyatakan kondisi tersebut membuat Indonesia harus memutar otak dalam mencari pasokan minyak mentah di pasar global.

"Sejak terjadinya konflik di Timur Tengah, kita kehilangan 25% sumber impor, Bapak Ibu sekalian. Nah, apa yang dilakukan sekarang? [Hal] yang dilakukan sekarang adalah kita melakukan hunting," kata Laode dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, Senin (5/10/2026).

Laode mengungkapkan proses impor minyak yang dilakukan Indonesia diubah, tidak lagi menunggu penawaran dari pemasok melalui tender.

Dia mengungkapkan Pertamina mencari negara yang memiliki kelebihan pasokan minyak mentah dan menawarnya untuk dibeli secara langsung.

"Kita lakukan hunting untuk menjaga agar stok nasional itu ada dan hunting ini tidak lagi mekanisme pengadaan seperti sebelumnya," ujar Laode.

Meski begitu, Laode membeberkan bahwa pembelian minyak lewat skema 'berburu' ini memiliki potensi harga beli yang lebih tinggi ketimbang pengadaan biasa. Namun, strategi tersebut tetap diambil demi menjamin ketersediaan pasokan energi di dalam negeri. 

"Kita beli dengan harga akan bisa berpotensi lebih tinggi daripada harga kalau kita lakukan dengan pengadaan biasa," imbuhnya.

Di sisi lain, perang antara AS dan Iran telah mengganggu pemulihan stok minyak dunia hingga dua tahun ke depan. Pasokan global diperkirakan makin mengetat jika konflik terus berlanjut. 

CEO Saudi Aramco Amin Nasser mengatakan tekanan terhadap pasar minyak akan makin besar hingga Selat Hormuz kembali sepenuhnya terbuka dan kepercayaan terhadap pasar energi pulih.

“Bahkan setelah itu, pengisian kembali persediaan minyak dunia sambil memenuhi permintaan dapat memakan waktu hingga dua tahun,” ucap Nasser dalam konferensi Energy Intelligence di London, Senin (5/10/2026).

Nasser menambahkan hampir 3 miliar barel pasokan minyak telah hilang sejak AS dan Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran pada akhir Februari. Di sisi lain, sekitar 1 miliar barel minyak telah dikeluarkan dari cadangan dunia. 

Sebagian besar pengurangan stok sejauh ini berasal dari persediaan komersial. Nasser mengatakan sekitar 6 miliar barel minyak yang masih tersimpan di dunia tidak secara praktis dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pasar.

“Sistem ini sudah berada di bawah tekanan,” kata dia.

Harga minyak Brent untuk penyelesaian Desember naik 1% menjadi US$101,19/barel pada pagi ini. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November naik 0,9% menjadi US$89,10/barel.

(smr/wdh)

No more pages