Logo Bloomberg Technoz

Kondisi tersebut dinilai berpotensi menurunkan harga minyak mentah dunia dan berdampak pada penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) di tingkat domestik.

"Kalau dia menghentikan perang dengan Iran, harga minyak akan turun. Selat Hormuz dibuka, Presiden Trump kembali kondusif, maka harga minyak dan harga BBM akan turun. Semua pasokan diesel nanti akan muncul kembali," kata Hashim.

Meski potensi penurunan harga minyak mentah global berisiko mengoreksi pendapatan di sektor hulu migas, Hashim menilai dampak tersebut masih dapat ditoleransi oleh pelaku industri energi nasional karena prospek bisnis sektor energi terbarukan dan diversifikasi usaha lainnya masih terbuka lebar.

Untuk itu, dia mengaku tetap optimistis terhadap ketahanan sektor energi nasional di tengah dinamika pasar global.

Untuk diketahui, harga minyak mentah dunia masih mencatatkan kenaikan pada perdagangan Rabu, (7/10/2026).

Pergerakan positif ini terdorong oleh meningkatnya kekhawatiran gangguan pasokan energi akibat ancaman cuaca buruk badai di pesisir Amerika Serikat serta eskalasi ketegangan geopolitik yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah.  

Harga minyak Brent untuk penyelesaian Desember naik 0,9% menjadi US$101,48/barel. West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman bulan November naik 0,7% menjadi US$90,09/barel.

Selisih atau spread antara Brent dan WTI kini berada di angka US$11,30/barel, yang mencerminkan tingginya permintaan terhadap pasokan non-AS untuk kebutuhan pengiriman internasional.   

Per akhir September, Arab Saudi telah menjual hampir 100 juta barel minyak kepada pembeli di Asia, menurut para trader yang mengetahui informasi ini, sehingga membantu mencegah krisis pasokan yang mengancam kawasan tersebut.

Minyak mentah yang akan dikirim pada Oktober dan November itu diangkut melalui Selat Hormuz, kata para trader yang meminta namanya tidak disebutkan karena mereka tidak berwenang berbicara kepada media.

Perusahaan penyulingan milik negara dan swasta China, serta perusahaan pengolahan di India, Jepang, dan Korea Selatan, termasuk di antara para pembelinya.

Gelombang penjualan yang tidak biasa ini setara dengan sekitar satu hari dari total permintaan global, dan mencerminkan peningkatan lebih dari dua kali lipat dari arus pasokan minyak Arab Saudi ke Asia melalui Selat Hormuz dalam beberapa waktu terakhir.

Hal ini terjadi saat pipa minyak Timur-Barat milik kerajaan—yang menghindari Selat Hormuz dengan mengalirkan minyak ke Laut Merah—belum beroperasi sepenuhnya, setelah diserang pada 10 September.

Adapun, pasokan minyak Iran telah terhenti akibat blokade AS, sementara pembeli menghindari minyak mentah Rusia akibat meningkatnya risiko politik. Kondisi ini memperketat persaingan untuk mendapatkan minyak mentah dari berbagai wilayah, mulai dari Afrika hingga Amerika Latin.

Selama konflik AS-Iran berlangsung, tanggung jawab pengangkutan minyak secara bertahap bergeser dari pembeli ke penjual.

Bagi penjual yang tidak memiliki kemampuan untuk menangani pengiriman secara mandiri— seperti perusahaan pemasaran minyak milik negara Irak, SOMO—para trader dan perantara lainnya turun tangan untuk mengangkut minyak mentah tersebut.

TotalEnergies SE, Vitol Group, Trafigura Group, dan Abu Dhabi National Oil Co termasuk di antara perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam pengangkutan minyak keluar dari Teluk Persia.

(smr/wdh)

No more pages