Selain menjaga kualitas makanan, sistem prasmanan juga dinilai dapat mengurangi makanan yang terbuang. Siswa dapat mengambil makanan sesuai kebutuhan dan menambah makanan jika masih tersedia.
BGN juga melihat model tersebut memiliki fungsi edukasi karena melibatkan pihak sekolah dan siswa dalam proses penyajian makanan. Namun, Sudaryono menilai penerapannya membutuhkan pelatihan yang memadai agar siswa memahami prosedur pelayanan dan kebersihan.
“Yang jelas kalau prasmanan ini memang kalau sudah terbiasa akan bagus, sama seperti di negara lain. Cuman memang perlu ada training yang cukuplah, karena melibatkan sekolah kan, melibatkan siswanya kan,” jelasnya.
Dalam skema tersebut, siswa dapat dilibatkan secara bergiliran untuk membantu melayani teman-temannya maupun guru. Mereka akan menggunakan perlengkapan seperti celemek dan sarung tangan saat bertugas.
“Siswanya harus, nanti siswa pakai celemek, kemudian pakai sarung tangan, dia piket 5-6 orang, dia ngelayanin temennya, ngelayanin gurunya, gitu,” kata Sudaryono.
Konsep tersebut memiliki kemiripan dengan praktik penyelenggaraan makan di sekolah di Jepang yang tidak hanya menempatkan kegiatan makan sebagai pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga bagian dari proses pembelajaran dan pembiasaan.
Sudaryono mengatakan BGN masih akan mengevaluasi hasil piloting di berbagai daerah. Evaluasi tersebut mencakup persoalan yang muncul di sekolah, kesiapan sumber daya manusia, hingga kebutuhan pelatihan sebelum model prasmanan diterapkan lebih luas.
Dengan piloting di berbagai wilayah, BGN ingin melihat apakah model tersebut dapat diterapkan secara efektif pada kondisi sekolah dan daerah yang berbeda, sekaligus memetakan tantangan yang perlu diperbaiki sebelum dilakukan pengembangan lebih lanjut.
(dec)




























