Langkah-langkah tersebut mencakup penurunan permintaan secara luas, peningkatan pasokan dari wilayah lain di dunia, serta pelepasan cadangan minyak strategis dalam jumlah besar. Dalam beberapa pekan terakhir, juga terjadi peningkatan tajam dalam lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz.
Sejumlah eksekutif senior di Energy Intelligence Forum di London melontarkan peringatan mengenai efektivitas jangka panjang dari berbagai langkah penanggulangan sementara tersebut.
"Ada batas seberapa lama ‘peredam guncangan’ tersebut dapat terus menahan beban," ujar Wael Sawan, CEO Shell Plc. "Kita mungkin telah meredam dampak terburuk dari krisis ini, tetapi ada batas waktu sejauh mana kita bisa terus melakukannya sebelum muncul gangguan lebih lanjut yang lebih serius."
Meski cadangan pasar telah menipis, peringatan serupa pernah muncul sebelumnya. Pada masa awal konflik, para pengamat pasar sempat memperingatkan bahwa skala gangguan tersebut mengisyaratkan pasokan akan habis hanya dalam hitungan minggu.
Namun, pada akhirnya skenario tersebut tidak terjadi secara luas, meski dampak negatif terhadap permintaan dan pasokan memang sempat dirasakan oleh beberapa negara miskin di dunia.
Kini, volume minyak mentah yang melintasi Selat Hormuz mendekati level sebelum perang, menurut para eksekutif di konferensi tersebut, tetapi setiap hari aliran pasokan terganggu berarti masih ada solusi alternatif yang perlu dicari di tempat lain.
"Kita membutuhkan sekitar 10, 12, hingga 14 juta barel untuk disalurkan melalui rute pelayaran tersebut demi menjaga keseimbangan selama musim dingin berlangsung," ujar Russell Hardy, CEO Vitol Group. "Sebab, tidak ada lagi cadangan yang bisa dikuras di wilayah Barat."
Sebagian besar tekanan di pasar minyak terkonsentrasi pada dua sektor spesifik: bahan bakar olahan dan angkutan laut.
Pekan lalu, sekelompok negara mengumumkan rencana baru untuk melepas 100 juta barel minyak ke pasar global guna meredam tekanan harga. Langkah ini terjadi setelah pengumuman pelepasan 400 juta barel yang dilakukan awal tahun ini.
Namun, hal ini berarti cadangan global akan terus menipis dalam beberapa bulan mendatang, terutama bahan bakar olahan seperti solar, yang pasokannya sangat terbatas dalam beberapa pekan terakhir.
"Meski kelangkaan minyak mentah tergolong serius, harga bahan bakar olahan justru naik lebih tajam," kata CEO Saudi Aramco, Amin Nasser.
"Cadangan darurat mungkin bisa membantu kita melewati musim dingin. Namun, cadangan tersebut tidak dapat mengatasi masalah pasokan jangka panjang."
(bbn)































