Menurutnya, kenaikan produksi minyak Brasil yang signifikan pada Agustus 2026—mencatatkan lonjakan hingga 18% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu—menjadi alasan utama pentingnya menjajaki kerja sama dengan negara ini.
Sementara itu, Guyana juga menawarkan prospek cerah seiring dengan mulai beroperasinya ladang minyak Uaru yang dijadwalkan berproduksi pada akhir 2026.
Prioritas Utama
Meskipun Brasil dan Guyana disusulkan sebagai opsi baru, kawasan Timur Tengah dan Afrika Barat masih memegang peranan kunci sebagai sumber pasokan utama atau Prioritas 1 bagi Indonesia.
“Arab Saudi melalui jalur pintas Yanbu dan Uni Emirat Arab [UEA] melalui Fujairah menawarkan waktu layar terbilang singkat, yakni 11 hingga 16 hari,” tambah dia.
Peluang impor dari Arab Saudi kian menarik setelah mereka memangkas harga minyak mentah jenis Arab Light senilai US$3 untuk pengiriman November ke wilayah Asia.
Di sisi lain, UEA yang resmi keluar dari OPEC per 1 Mei 2026 kini tengah menargetkan lonjakan kapasitas produksi hingga 5 juta barel per hari (bph) pada 2027.
Di wilayah Afrika Barat, negara-negara seperti Nigeria, Angola, dan Gabon yang memiliki waktu layar sekitar 27 hari juga disarankan untuk diperdalam status kerjasamanya.
Yayan menjelaskan Nigeria menjadi prioritas mendesak mengingat negara ini telah menyumbang separuh dari total impor minyak Indonesia, di tengah tingginya penyerapan dalam negeri mereka oleh Kilang Dangote sebesar 0,68 juta bph.
Adapun, Angola tetap menjadi pertimbangan utama meski tingkat produksinya yang berada di angka 1,03 juta bph masih di bawah target, disusul Gabon yang turut memperkuat kelompok pasokan kawasan tersebut.
Sebagai pelengkap portofolio impor, kawasan Afrika Utara dan Asia Tengah turut diperhitungkan. Aljazair masuk dalam prioritas 2 dengan waktu layar sekitar 22 hari karena memiliki nilai strategis berkat kepemilikan saham hulu PT Pertamina di sana.
Sementara itu, Libya, Kazakhstan, dan Azerbaijan ditempatkan sebagai opsi pasokan pelengkap dengan waktu layar sekitar 22 hari.
“Untuk itu, langkah menguji coba pasokan alternatif dari Brasil dan Guyana menjadi opsi rasional untuk menjaga stabilitas energi nasional di tengah dinamika geopolitik global,” jelas Yayan.
Kementerian ESDM sebelumnya mengakui Indonesia kehilangan sekitar 25% sumber impor minyak mentah, usai konflik antara Iran–Amerika Serikat (AS) pecah di Timur Tengah.
Dalam hal ini, Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menyatakan Indonesia telah kehilangan sekitar 25% sumber impor minyak sejak konflik Timur Tengah terjadi.
"Sejak terjadinya konflik di Timur Tengah, kita kehilangan 25% sumber impor, Bapak Ibu sekalian. Nah, apa yang dilakukan sekarang? [Hal] yang dilakukan sekarang adalah kita melakukan hunting," ujar Laode dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026, Senin (5/10/2026).
Laode mengungkapkan proses impor minyak yang dilakukan Indonesia diubah, tidak lagi menunggu penawaran dari pemasok melalui tender.
Dia mengungkapkan PT Pertamina (Persero) mencari negara yang memiliki kelebihan pasokan minyak mentah dan menawarnya untuk dibeli secara langsung.
"Kita lakukan hunting untuk menjaga agar stok nasional itu ada dan hunting ini tidak lagi mekanisme pengadaan seperti sebelumnya," ujar Laode.
Adapun, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengklaim Indonesia sudah mendapatkan komitmen pasokan minyak mentah atau crude dari sejumlah negara hingga akhir tahun.
"Saya juga melaporkan tentang kerja sama kita dengan beberapa negara terkait dengan crude BBM. Alhamdulillah kita juga clear sampai dengan insyaallah akhir tahun, enggak ada masalah," kata Bahlil kepada awak media di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin (20/7/2026) petang.
Salah satu komitmen pasokan minyak mentah berasal dari Rusia. Wamen ESDM Yuliot Tanjung sebelumnya mengungkapkan komitmen 150 juta barel minyak mentah dari Rusia yang diamankan Indonesia rencananya bakal didatangkan hanya untuk tahun ini.
Dia menyatakan konsumsi minyak mentah Indonesia per hari mencapai sekitar 1,6 juta bph dan 1 juta bph di antaranya dipasok dari pasokan impor, sehingga komitmen minyak Rusia sebesar 150 juta barel masih menyisakan ruang pasokan dari negara lainnya
"Untuk komitmen impor minyak dari Rusia ini kan baru negosiasi kemarin, kan sudah disepakati total yang akan kita impor dari Rusia itu kan sekitar 150 juta barel untuk mencukupi kebutuhan kita sampai dengan akhir tahun," kata Yuliot kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (24/4/2026).
Adapun, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) impor minyak mentah yang tercatat dalam kode HS 27090010 (crude petroleum) sepanjang Januari—Agustus 2026 mencapai 11,69 juta metrik ton.
Dari besaran itu, Indonesia tercatat mengimpor minyak mentah asal AS sebesar 134.430 metrik ton atau senilai US$74,23 juta pada Agustus 2026 dan dari besaran tersebut AS sudah tercatat menjadi salah satu negara sumber impor minyak mentah Indonesia.
Secara terperinci, Nigeria menjadi negara asal impor dengan volume terbesar dengan total mencapai 2,89 juta metrik ton.
Kemudian, Arab Saudi menjadi negara kedua pemasok minyak mentah ke Indonesia dengan volume 2,02 juta metrik ton.
Posisi ketiga terbesar ditempati oleh Angola yang tercatat impor minyak mentah dari negara tersebut sekitar 1,93 juta metrik ton.
Secara bulanan, pada Agustus 2026 Indonesia tercatat mengimpor sekitar 1,5 juta metrik ton minyak mentah atau turun sekitar 7,71% dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai 1,63 juta metrik ton.
Begitu juga secara nilainya, nominal impor minyak mentah pada Agustus 2026 sebesar US894,51 juta atau turun 23,59% secara bulanan dibandingkan dengan Juli 2026 yang mencapai sekitar US1,17 miliar.
Berdasarkan data BPS, berikut daftar negara pemasok minyak mentah ke Indonesia sepanjang Januari—Agustus 2026:
- Nigeria: 2,89 juta metrik ton
- Arab Saudi: 2,02 juta metrik ton
- Angola: 1,93 juta metrik ton
- Brasil: 1,45 juta metrik ton
- Gabon: 0,70 juta metrik ton
- Malaysia: 0,51 juta metrik ton
- UAE: 0,28 juta metrik ton
- Cote D'Ivoire: 0,24 juta metrik ton
- Equatorial Guinea: 0,24 juta metrik ton
- Kazakhstan: 0,22 juta metrik ton
- Algeria: 0,19 juta metrik ton
- Guyana: 0,14 juta metrik ton
- Azerbaijan: 0,14 juta metrik ton
- Cameroon: 0,14 juta metrik ton
- Amerika Serikat (AS): 0,13 juta metrik ton
- Libya: 0,13 juta metrik ton
- Congo: 0,12 juta metrik ton
- Rusia: 0,10 juta metrik ton
- Papua Nugini: 0,08 juta metrik ton
- Brunei: 0,04 juta metrik ton
(smr/wdh)





























