Logo Bloomberg Technoz

Di Indonesia, kebutuhan kapasitas data center untuk AI diperkirakan 500 megawatt (MW) dan berpotensi meningkat dua kali lipat dalam waktu dekat. Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya penggunaan AI oleh perusahaan dan kebutuhan komputasi yang semakin besar, seperti diutarakan Sekretaris Jenderal, Indonesia Data Center Ecosystem Council (IDCEC), Erick Hadi.

Baca Juga: Risiko Ekologi Mengintai di Balik Ramai Pusat Data di Indonesia

Erick menambahkan bahwa pertumbuhan industri pusat data di Indonesia saat ini bahkan melampaui rata-rata global yang berada di kisaran 20%-25% per tahun. Selain ditopang meningkatnya kebutuhan AI, Indonesia juga memperoleh limpahan investasi setelah Singapura menghentikan pembangunan pusat data baru sejak 2019.

"Kalau kita melihat industri data center secara global, pertumbuhannya rata-rata berada di kisaran 20% hingga 25% per tahun. Namun, Indonesia justru tumbuh lebih cepat," ujar Erick di Jakarta, Senin (6/7/2026).

Bagi Erick, perusahaan hyperscaler maupun penyedia layanan cloud global kini membutuhkan lebih banyak pusat data untuk mendistribusikan layanan digital kepada ratusan juta pengguna di kawasan Asia Tenggara. 

Besarnya pasar domestik menjadi salah satu daya tarik utama. Dengan populasi sekitar 280 juta jiwa dan dominasi kelompok usia produktif yang semakin bergantung pada teknologi digital, cloud computing, dan AI, Indonesia dinilai memiliki prospek besar sebagai pasar pusat data.

Hingga paruh pertama 2026, total kapasitas operasional pusat data Indonesia mencapai sekitar 682 MW dari sisi IT Load. Kapasitas tersebut diperkirakan meningkat menjadi sekitar 1,6 gigawatt (GW) pada kuartal II-2027 seiring masuknya sejumlah fasilitas pusat data baru. Namun, ekspansi industri ini juga menghadapi tantangan kebutuhan energi dan air. Pusat data membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar untuk mengoperasikan server sekaligus sistem pendingin.

(mef/wep)

No more pages