Logo Bloomberg Technoz

Pada saat yang sama, kilang-kilang milik negara China menyerap sebagian besar pasokan minyak mentah Rusia yang tersedia, sehingga menaikkan biaya bagi perusahaan penyulingan independen.

Persediaan di beberapa kilang teapots di Shandong berisiko habis paling cepat akhir bulan ini, memaksa kilang-kilang tersebut bersaing memperebutkan pasokan alternatif yang semakin menipis, tepat saat Beijing mengeluarkan kuota impor minyak mentah baru.

"Untuk menghindari penutupan operasi atau pemangkasan signifikan tingkat produksi, kilang-kilang minyak perlu mengamankan pasokan alternatif sesegera mungkin," kata Muyu Xu, analis senior minyak mentah dari Kpler.

Keterbatasan pasokan ini telah mendorong beberapa perusahaan pengolah minyak beralih ke minyak mentah Basrah yang kaya sulfur, yang biasanya mereka hindari demi minyak mentah Iran yang lebih murah dan ESPO yang kaya diesel dari Timur Jauh Rusia.

Meningkatnya aliran minyak dari Timur Tengah, seiring produsen Teluk mengalirkan lebih banyak minyak melalui Selat Hormuz, juga membuat minyak mentah Irak semakin mudah diperoleh.

Para produsen di kawasan tersebut memperbesar diskon harga demi mempertahankan pangsa pasar, setelah Saudi Aramco memangkas harga jual minyak mentah andalannya bagi pembeli Asia.

Sementara itu, harga minyak mentah Rusia tetap mahal; minyak jenis ESPO dijual dengan premi hampir US$30 per barel di atas harga Brent, kata para trader yang meminta identitas mereka dirahasiakan karena negosiasi tersebut bersifat tertutup.

"Kilang-kilang independen sangat sensitif terhadap harga," ujar Muyu Xu dari Kpler, seraya menambahkan bahwa minyak mentah Basrah kini lebih murah dibandingkan dengan ESPO Rusia, sehingga pasokan tersebut semakin menarik bagi kilang-kilang swasta.

Menurut para trader, pembeli minyak mentah Irak mencakup perusahaan pengolahan swasta di Provinsi Shandong, China, serta sejumlah kilang independen berskala besar.

Minyak mentah Irak umumnya dipasarkan oleh perusahaan perdagangan seperti Vitol Group, Trafigura Group, dan Mercuria Energy Group, serta TotalEnergies SE.

Iran merupakan pemasok minyak mentah utama bagi kilang-kilang independen China sebelum blokade, dengan impor melebihi 1 juta barel per hari sebelum perang.

Perusahaan pengolahan swasta menjadi pembeli utamanya, karena tertarik oleh diskon besar-besaran pada minyak yang terkena sanksi, yang pada gilirannya meningkatkan margin keuntungan kilang.

(bbn)

No more pages