Selain menjaga kualitas makanan, sistem prasmanan juga dinilai dapat mengurangi makanan yang terbuang. Siswa dapat mengambil makanan sesuai kebutuhan dan, apabila masih tersedia, dapat mengambil tambahan.
"Sejauh ini tadi saya dapat laporan, tingkat kehabisan makanannya bagus. Jadi lebih fresh, kemudian ada yang mungkin mau nambah, masih ada sisa bisa nambah. Dan waste-nya lebih sedikit karena prasmanan," kata Sudaryono.
BGN juga melihat model prasmanan bukan sekadar perubahan dalam sistem distribusi makanan. Model tersebut dinilai dapat menjadi bagian dari proses edukasi siswa, terutama dalam membangun kebiasaan makan dan keterlibatan dalam penyelenggaraan makan bergizi di sekolah.
Dalam penerapannya, sekolah turut dilibatkan untuk memastikan proses penyajian berjalan sesuai standar. Siswa juga dapat dilibatkan secara terjadwal dalam proses pelayanan, dengan tetap memperhatikan penggunaan perlengkapan serta tata kelola kebersihan.
Sudaryono mengatakan penerapan sistem tersebut membutuhkan kesiapan dari dapur maupun sekolah. Menurut dia, konsep prasmanan yang menggabungkan penyediaan makanan dengan unsur edukasi juga dipelajari dari praktik penyelenggaraan makan di Jepang.
"Kalau prasmanan ini memang, kalau sudah terbiasa akan bagus, sama seperti di negara lain. Cuman memang perlu ada training yang cukup," ungkapnya.
BGN saat ini masih mengevaluasi berbagai tantangan dalam penerapan model tersebut. Evaluasi dilakukan untuk melihat apakah sistem prasmanan dapat diterapkan secara efektif pada berbagai kondisi sekolah dan SPPG.
Hasil uji coba nantinya akan menjadi bahan pertimbangan BGN dalam mengembangkan model prasmanan secara lebih luas. Pengembangan tersebut akan mempertimbangkan kesiapan dapur, sekolah, sumber daya manusia, serta karakteristik penerima manfaat di masing-masing daerah.
(dec/spt)































