Logo Bloomberg Technoz

"Nah pertanyaannya kenapa ada kelompok rating agency yang heboh dan mematok Indonesia di angka-angka yang sebetulnya dibandingkan negara-negara yang tadi saya sebut makro prudensial kita relatif konservatif. Nah ini sebetulnya kan pertanyaannya kalau yang lain boleh kok Indonesia nggak boleh?" tekannya. 

Meski menghadapi tengah tekanan penilaian global tersebut, Airlangga menegaskan ketahanan ekonomi nasional sejatinya masih sangat solid.

Dari sisi pertumbuhan ekonomi, Airlangga mengatakan Indonesia masih mampu tumbuh sekitar 5,45% meskipun pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan rata-rata hanya berada di kisaran 3%.

Sektor industri pengolahan disebut menjadi salah satu kontributor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Industri pengolahan nonmigas tercatat tumbuh 5,32% dan memberikan kontribusi sebesar 16,83% terhadap PDB nasional.

Menurutnya, penguatan sektor industri dan peningkatan nilai tambah sumber daya alam menjadi bagian penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat fundamental ekonomi Indonesia.

"Walaupun berbagai lembaga menilai pertumbuhan global rata-rata 3%-an baik IMF, World Bank, [tapi] Indonesia masih mampu tumbuh di 5,45%, dan tentu kita berharap bahwa menjelang semester kedua angkanya juga tidak jauh dari angka di semester pertama," pungkasnya. 

(lav)

No more pages