Logo Bloomberg Technoz

Menurut Toyota Tsusho, KTBI menargetkan untuk memulai operasi komersial pada tahun 2027, dengan rencana penjualan sekitar 150.000 mmBtu/tahun (2.880 ton/tahun) biometana dari POME.

Sebelumnya diberitakan bahwa Grup Toyota berencana membangun pabrik bioetanol dan bahan bakunya di Lampung yang ditargetkan mulai konstruksi pada kuartal III-2026.

Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi Todotua Pasaribu menyebut pemerintah telah menyiapkan dua rencana untuk mempercepat proyek tersebut.

"[Pertama,] pembangunan plant etanolnnya dan juga untuk penanaman feedstock supporting tambahannya, salah satunya itu adalah sorgum. Kedua, insentif yang pasti," ujarnya saat konferensi pers, Senin (20/4/2026).

"Untuk semua investasi yang ada di Indonesia, kita memang kasih insentif dalam bentuk master list dan solid rate, tetapi khusus untuk ini pun nanti akan kita running, karena seperti program kita dulu masuk ke biofuel B40-B50, itu ada penetrate-penetrate yang dilakukan."

Todotua tidak menampik pemerintah mengebut proyek bioetanol di Lampung untuk mengejar kesiapan implementasi mandatori E10 maksimal pada 2028 yang sudah tersisa kurang dari dua tahun lagi.

"Itu adalah waktu yang sangat cepat, dan membangun plan itu membutuhkan waktu, maka tahun ini sudah harus kita lakukan," tegasnya.

Kapasitas Awal

Lebih lanjut, Todotua menguraikan kapasitas awal dari pabrik bioetanol yang akan dibangun Toyota di Lampung adalah 60.000 kiloliter (kl) per tahun untuk menambah kapasitas produksi nasional.

Menurutnya, saat ini kapasitas produksi nasional bioetanol Indonesia adalah sekitar 120.000 kl, tetapi hanya 80.000 kl yang terpakai. 

"Untuk budget-nya sedang berjalan, karena juga sudah ada ditunjuk konsultan feasibility-nya. Ini sudah almost done untuk itu, jadi konstruksinya akan kita mulai tahun ini. Target pada kuartal III, maksimal pada kuartal IV tahun ini. Kalau berjalan sih seharusnya maksimal 2028 sudah bisa produksi."

Kabar masuknya Toyota Motor Corp ke investasi pengembangan ekosistem bioetanol di Indonesia pertama kali diumumkan BKPM pada November 2025.

Saat itu, Todotua menyebut nilai rencana investasi Toyota untuk pengembangan bioetanol di Indonesia mencapai sekitar Rp2,5 triliun untuk kapasitas produksi sekitar 60.000 kl per tahun.

Dia mengelaborasi saat ini kebutuhan bahan bakar di dalam negeri mencapai lebih dari 40 juta kl per tahun. Dengan mandatori E10, lanjutnya, setidaknya Indonesia membutuhkan sekitar 4 juta kl bioetanol pada 2027.

"Agar tidak kehilangan momentum, maka persiapan pembangunan pabrik pendukung harus dimulai dari sekarang. Peluang inilah yang ditangkap oleh Toyota yang juga sudah mengembangkan mobil berbahan bakar bioetanol di banyak negara," ujarnya.

(ros)

No more pages