Konsumsi minyak mentah masih terus meningkat dan berbagai negara akan membutuhkan pasokan lebih besar setidaknya selama dua tahun ke depan untuk memulihkan kembali cadangan mereka, kata Nasser.
Hal ini berarti adanya tambahan permintaan setidaknya 2 juta barel per hari, atau bahkan lebih jika pemerintah memutuskan untuk menambah jumlah cadangan minyak yang mereka simpan, ujarnya.
Ketika perang AS-Iran pecah, dunia memiliki sekitar 10 miliar barel cadangan minyak, kata Nasser. Angka tersebut telah turun menjadi kurang dari 6 miliar barel, di mana hanya sekitar 10% di antaranya benar-benar tersedia karena berbagai kendala teknis, tambahnya.
Melepas sebagian dari sisa cadangan global memang akan memberi sedikit waktu bagi perekonomian, tetapi tidak akan mengatasi ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan, kata Nasser.
Para produsen di kawasan Teluk sedang berupaya meningkatkan produksi dan ekspor, sserta telah berhasil memulihkan aliran minyak mentah hingga mendekati level sebelum perang.
Arab Saudi dan negara-negara tetangganya seperti Uni Emirat Arab dan Kuwait telah menggunakan kapal tanker mereka sendiri untuk mengangkut minyak mentah melalui Selat Hormuz. Selat tersebut sempat terhambat—setidaknya sebagian—sejak AS dan Israel menyerang Iran pada akhir Februari, yang memicu perang regional.
Peningkatan arus pasokan tersebut hanya memberi sedikit kelegaan bagi pasar minyak, yang masih memperhitungkan risiko keamanan pasokan di Teluk Persia dan Laut Merah.
Minyak mentah Brent, acuan internasional, diperdagangkan di kisaran harga US$100 per barel selama sebulan terakhir, meski semakin banyak kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz.
Kapal-kapal tersebut harus menghadapi risiko serangan yang semakin tinggi, sementara Arab Saudi sendiri telah berulang kali menjadi sasaran serangan dalam sebulan terakhir.
Kendati demikian, Nasser menyatakan seluruh kapasitas hulu Aramco tetap utuh. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk terus memenuhi kontrak pasokan dengan para pembeli di Eropa dan Asia.
Perusahaan telah menggunakan berbagai jalur ekspor, mengalihkan pasokan antarjenis minyak mentah, serta mengerahkan armada tanker milik sendiri untuk melayani pelanggan, ujarnya.
Selama sebulan terakhir, Aramco meningkatkan pengiriman minyak mentah dari terminal ekspor utamanya di Ras Tanura, Teluk Persia. Perusahaan bereaksi cepat terhadap penghentian sementara pipa lintas negara utamanya akibat serangan bulan lalu, dan sejak saat itu telah memulihkan aliran minyak hingga sekitar 80% dari kapasitasnya.
Aramco sedang mencari rute ekspor minyak mentah alternatif guna menghindari ketergantungan berlebih pada satu metode saja dalam menjangkau pembeli global, kata Nasser, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Perusahaan sedang mengkaji rencana yang akan menggandakan atau melipatgandakan kapasitas fasilitas penyimpanannya, katanya.
(bbn)




























