Logo Bloomberg Technoz

“DMO semen US$90 per [metrik] ton memang perlu dikaji ulang. Harga itu sudah berlaku sejak 2018, sementara biaya produksi dan logistik telah berubah cukup signifikan,” katanya.

Dampak Meluas

Bisman menambahkan dampak dari permasalahan DMO ini juga berpotensi meluas ke sektor industri lainnya. 

Menurutnya, persoalan DMO bukan sebatas pemenuhan kewajiban administratif, melainkan bagaimana skema tersebut mampu memastikan pasokan batu bara benar-benar sampai ke pengguna akhir dengan ketepatan volume, spesifikasi, serta waktu pengiriman.

“Pemerintah diharapkan dapat menghitung kembali besaran harga tersebut agar tetap memberikan perlindungan bagi industri semen sekaligus menjaga keekonomian bagi pihak pemasok guna menjamin keberlanjutan pasokan,” katanya.

Untuk diketahui, pemerintah Indonesia secara resmi menetapkan batas harga maksimal DMO batu bara untuk sektor industri domestik, khususnya pabrik semen dan pupuk, sebesar US$90/mt.

Kebijakan ini pertama kali diberlakukan melalui Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 206.K/HK.02/MEM.B/2021 yang mulai berlaku efektif pada 1 November 2021. 

Regulasi ini dikeluarkan untuk menjaga keterjangkauan biaya bahan baku dan bahan bakar industri vital dalam negeri di tengah lonjakan harga batu bara global kala itu.  

Dalam perkembangannya, cakupan intervensi harga DMO sebesar US$90/mt tersebut diperluas oleh Kementerian ESDM lewat Keputusan Menteri ESDM Nomor 58.K/HK.02/MEM.B/2022 yang mulai berlaku pada 1 April 2022.

Adapun, spesifikasi batu bara yang dikenakan tarif DMO US$ 90 per metrik ton didasarkan pada kalori acuan 6.322 kcal/kg GAR.

Kehadiran regulasi ini menjadi pilar utama untuk menjamin kepastian pasokan (fulfillment) batu bara bagi industri semen domestik sekaligus menjaga kestabilan biaya produksi nasional dari fluktuasi indeks harga pasar internasional.  

Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (Asperssi) Lilik Unggul Raharjo mengungkapkan saat ini industri semen tengah mengalami krisis kelangkaan batu bara akibat tersendatnya pasokan DMO.

Hal ini terjadi bersamaan dengan adanya fenomena El Niño yang berdampak pada kekeringan sungai hingga menyebabkan kendala logistik pengiriman batu bara ke pabrik-pabrik semen.

Lilik menjelaskan, hingga awal September 2026, persediaan batu bara di sebagian besar pabrik semen terus menipis.

“Per awal September 2026, stok batu bara di sebagian besar pabrik semen menipis hingga hanya tersisa untuk 2 sampai 3 hari operasi,” terang Lilik kepada Bloomberg Technoz, Kamis (24/9/2026).

Dia mengelaborasi kelangkaan bahan batu bara tersebut memaksa beberapa pabrik menghentikan sementara fasilitas produksi mereka, yang mengakibatkan hilangnya potensi pasokan klinker atau bahan setengah jadi semen hingga mencapai 1,2 juta ton.

Lilik juga menegaskan masalah logistik yang sebelumnya sudah terjadi kini kian diperparah oleh fenomena El Niño dan kekeringan aliran sungai yang menghambat jalur distribusi pasokan batu bara ke pabrik-pabrik semen.

“El Niño dan kekeringan sungai memperparah kondisi yang ada, pada logistik batu bara. Sebelumnya memang ada masalah,” tambahnya.

Untuk diketahui, batu bara memiliki peran ganda yang sangat vital dalam industri semen, yaitu sebagai sumber energi panas sekaligus penyumbang bahan baku.

Jenis batu bara yang paling umum dan ideal digunakan oleh pabrik semen adalah batu bara bituminus (bituminous coal), serta sub-bituminus tingkat tinggi.

Pemilihan jenis ini didasari oleh nilai kalornya yang tinggi (sekitar 5.000—6.500 kcal/kg) sehingga mampu mencapai suhu kalsinasi yang dibutuhkan dengan cepat.

Selain itu, batu bara jenis ini memiliki kadar air (moisture) yang relatif rendah serta kadar zat terbang (volatile matter) yang pas untuk menjaga nyala api tetap stabil di dalam tanur.

Di sisi lain, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan pasokan batu bara untuk industri semen telah dipastikan aman.

“Enggak, sudah aman sekarang,” kata Tri saat ditemui awak media usai agenda Hari Pertambangan dan Energi di Jakarta, Selasa (29/9/2026).  

Tri menjelaskan kendala teknis tersebut kini telah teratasi. Selain disebabkan oleh dampak cuaca ekstrem, hambatan pengiriman sempat terjadi karena adanya penyesuaian terkait penambahan kuota pasokan.

“Enggak. Ini hanya ada pengaturan kemarin karena terkait ada penambahan. Ada penambahan kuota batu bara dan lain-lain,” tambahnya. 

Dia juga menegaskan kendala penyaluran batu bara untuk industri semen tidak berkaitan dengan skema harga DPO dalam program DMO senilai US$90/mt.

Menurutnya, seluruh skema pengaturan dan alokasi pasokan batu bara saat ini sudah berjalan normal.

“Enggak, bukan [karena] itu,” katanya.

(wdh)

No more pages