Logo Bloomberg Technoz

Rupiah kembali tertekan dan diperkirakan akan kembali menguji area Rp18.000/US$ di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF). Lalu, yield SUN 10 tahun terkerek 2,2 basis poin (bps) ke 7,18%. 

Bahkan, yield obligasi Indonesia berdenominasi dolar AS terkerek naik ke 6,29%, tertinggi sejak Oktober 2009. 

Yield INDON 10 tahun naik hingga 6,26%. (Bloomberg)

Sehingga, gelaran lelang sukuk kali ini bukan hanya menunjukkan seberapa besar kemampuan pemerintah menyerap dana. Dengan adanya kenaikan yield di pasar obligasi global, lelang kali ini juga akan menunjukkan berapa mahal biaya yang harus dibayar pemerintah untuk mendapatkan dana tersebut. 

Kenaikan yield US Treasury yang kini berada di level 5,3% membuat instrumen obligasi AS semakin kompetitif bagi investor global. Ketika imbal hasil aset bebas risiko AS meningkat, investor cenderung meminta kompensasi lebih tinggi saat masuk ke aset dengan risiko pasar dan risiko nilai tukar seperti SUN ataupun sukuk. 

Hal ini terkonfirmasi juga dengan data Credit Default Swap (CDS) INDON 5 tahun yang kembali meninggi ke 95,69 hari ini. Padahal, pada lelang sukuk sebelumnya CDS INDON 5 tahun masih berada di kisaran 88,2.

Kenaikan CDS ini menunjukkan bahwa premi yang diminta pasar untuk menanggung risiko kredit Indonesia juga ikut meningkat. Artinya, tekanan di pasar obligasi kali ini tak cuma berasal dari kenaikan benchmark yield global. Lebih dari itu, persepsi risiko terhadap aset Indonesia juga meninggi. 

Pelaku pasar agaknya bersikap lebih hati-hati di tengah ekspektasi langkah hawkish oleh bank sentral AS, The Fed. Selain itu, investor juga menantikan rilis risalah rapat FOMC esok yang akan menggambarkan proyeksi kebijakan suku bunga acuan AS selanjutnya. 

Dengan berbagai faktor yang ada, dan kondisi pasar obligasi yang sedang berada dalam tekanan, kemungkinan penawaran yang masuk dalam lelang sukuk kali ini menurun dengan perolehan yield yang lebih tinggi di kisaran 7,1-7,2% untuk seri bertenor panjang seperti PBS. 

Meski begitu, penurunan minat ini tidak otomatis menggambarkan bahwa investor meninggalkan pasar obligasi domestik. Untuk diketahui, berdasarkan data yang dihimpun Bloomberg, pasar obligasi Tanah Air masih mencatat arus modal masuk per 2 Oktober senilai US$225,6 juta secara harian dan US$255,1 juta secara mingguan. 

(dsp/aji)

No more pages