Sejumlah saham menjadi pendorong penguatan IHSG pada penutupan perdagangan hari ini. Saham–saham properti, saham barang baku, dan saham infrastruktur mencatatkan kenaikan paling tinggi, dengan masing–masing menguat mencapai 2,31%, 2,06% dan 1,99%.
Kenaikan IHSG yang begitu percaya diri merupakan efek langsung dari melesatnya sejumlah saham big caps. Berikut selengkapnya berdasarkan data Bloomberg, Senin (5/10/2026).
- PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menopang 8,25 poin
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menopang 6,88 poin
- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menopang 5,93 poin
- PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menopang 5,62 poin
- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menopang 5,03 poin
- PT Astra International Tbk (ASII) menopang 4,9 poin
- PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) menopang 4,73 poin
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menopang 4,69 poin
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menopang 3,81 poin
- PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menopang 3,71 poin
Adapun saham–saham unggulan LQ45 turut menjadi pendorong penguatan IHSG, saham PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) melonjak 4,07% dan saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) juga melesat 3,72%. Sama halnya, saham PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) juga lompat hingga 3,66%.
Disusul oleh penguatan saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) yang menguat 3,61%, saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) melesat 3,46%, dan saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) yang mencetak penguatan 3,45%.
IHSG ditutup menguat 1,36% di posisi 6.118,86 pada penutupan perdagangan Senin (5/10/2026), setelah hampir sepanjang perdagangan Indeks Komposit tergelincir di teritori negatif. Mengutip analis Phintraco Sekuritas, secara teknikal, indikator Stochastic RSI mengindikasikan reversal di area oversold dan terjadi penyempitan histogram negative MACD. IHSG berhasil ditutup di atas level MA5.
“Sehingga diperkirakan penguatan IHSG berpotensi berlanjut dengan menguji level 6.150–6.200,” papar Phintraco dalam catatan terbarunya, Senin.
Sentimennya, harga minyak Brent bergerak turun menuju rentang US$101 per barel, di mana indikasi peningkatan pasokan global lebih mendominasi sentimen pasar dibanding kecemasan akan meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah.
Adapun, Panin Sekuritas menuturkan, meredanya ekspektasi pengetatan moneter global dalam waktu dekat, seiring melemahnya data ketenagakerjaan AS, jadi sentimen pendorong penguatan IHSG.
Data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) rilis lebih lemah dari estimasi pasar, dengan data Non-Farm Payrolls (NFP) pada September 2026 hanya bertambah 29 ribu dan unemployment rate menguat menjadi 4,2%, sehingga pasar menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Oktober 2026.
“Namun demikian, probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember 2026 masih di atas 80%,” terang Panin.
(fad)
































