Logo Bloomberg Technoz

Selain berdasarkan wilayah, Greenpeace menganalisis titik sumber asap berdasarkan sejumlah entitas pengelolaan lahan. Dari 141 kesatuan hidrologis gambut yang diidentifikasi, ditemukan 3.557 titik sumber asap.

Sementara itu, dari 120 Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH), Greenpeace menemukan 970 titik sumber asap. Pada 233 izin perkebunan kelapa sawit, terdapat 980 titik sumber asap.

Greenpeace juga menemukan 3.177 titik sumber asap di seluruh kawasan hutan produksi. Adapun di 44 kawasan konservasi yang diidentifikasi, terdapat 862 titik sumber asap.

Greenpeace turut menemukan 2.719 titik sumber asap di wilayah yang sebelumnya mengalami kebakaran berulang pada periode 2015, 2019 hingga 2023.

Soroti Krisis Berulang

Juru Kampanye Pantau Gambut Putra Saptian mengatakan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi pada 2026 tidak dapat hanya dikaitkan dengan musim kemarau. Menurutnya, kebakaran yang terjadi saat ini merupakan akumulasi dari lemahnya perlindungan dan tata kelola ekosistem gambut.

"Kebakaran hutan yang terjadi saat ini merupakan bagian dari akumulasi krisis yang terjadi akibat lemahnya perlindungan dan tata kelola ekosistem gambut di Indonesia," kata Putra.

Putra mengingatkan kebakaran hutan dan lahan telah berulang sejak dekade 1980-an. Dia menyinggung kebakaran besar pada 1982-1983, kemudian kebakaran pada 1997 setelah pembukaan lahan gambut melalui proyek lahan gambut satu juta hektare di Kalimantan Tengah, serta kebakaran pada 2015, 2019, 2023 hingga kembali terjadi pada 2026.

Pantau Gambut sejak Juli 2025 telah mempublikasikan kondisi ekosistem gambut Indonesia. Dari total sekitar 24 juta hektare ekosistem gambut, sekitar 16 juta hektare disebut memiliki kerentanan tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan.

Pantau Gambut juga menemukan 936 perusahaan dengan konsesi Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) dan praktik reklamasi ekosistem yang menguasai sekitar 8,3 juta hektare kesatuan hidrologis gambut di berbagai wilayah Indonesia.

Mengutip studi Pantau Gambut berjudul Satu Dekade Restorasi Ekosistem Gambut Indonesia, Putra mengatakan pemulihan lahan gambut pascakebakaran belum menunjukkan hasil seperti yang diharapkan.

Pada area gambut non-konsesi yang terbakar sepanjang 2015-2024, hanya sekitar 3% lahan yang kembali menjadi hutan.

Sebaliknya, sebanyak 54% area gambut non-konsesi yang terbakar berubah menjadi tanaman monokultur seperti akasia dan sawit.

"Pada area gambut non-konsesi yang terbakar kita mencatat hanya 3% lahan yang kembali benar-benar menjadi hutan. Sisanya area tersebut berubah menjadi semak belukar dan, lebih ironisnya, kita menemukan sebanyak 54% berubah menjadi tanaman-tanaman monokultur seperti akasia dan sawit," kata Putra.

(dec)

No more pages