Namun, dari sisi eksternal, rupiah mendapat sedikit penopang dari data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang tercatat melemah dengan adanya kenaikan tingkat pengangguran menjadi 4,2% dari sebelumnya 4,1%. Kondisi ini sedikit meredakan ekspektasi hawkish oleh The Fed meski belum sepenuhnya hilang. Pelaku pasar akan mencermati nada The Fed melalui risalah rapat FOMC yang akan rilis pekan ini.
Meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, membawa sebagian mata uang Asia pagi ini mampu merespons secara defensif. Dolar Taiwan menguat 0,3%, disusul won Korea Selatan 0,2%, yen Jepang yang lebih terbatas 0,04%, serta dolar Hong Kong 0,01%.
Sebaliknya, mata uang lainnya seperti dolar Singapura melemah 0,15%. Diikuti rupiah, kemudian peso Filipina dan yuan offshore masing-masing 0,04%, lalu ringgit Malaysia sebesar 0,03% bersama baht Thailand.
Tekanan eksternal yang datang dari pergerakan harga minyak, diikuti dengan ketidakpastian konflik di Timur Tengah berpotensi membuat ruang penguatan rupiah awal pekan ini masih terbatas.
Terlebih, surplus perdagangan yang besar belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan pasokan devisa dari sisi ekspor. Pelaku pasar akan mencermati posisi cadangan devisa edisi September yang akan dirilis Rabu (7/10/2026).
Untuk diketahui, posisi cadangan devisa pada Agustus sempat naik dan berada di US$146,5 miliar, ketimbang posisi Juli yang sebesar US$145,3 miliar. Namun, devisa tersebut didapat dari penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, bukan kinerja ekspor.
(dsp/aji)


























