Berdasarkan data Kementerian ESDM, kata Ronny, kebutuhan bensin nasional mencapai sekitar 40 juta kiloliter (kl) per tahun dan produksi domestik hanya sekitar 14,3 juta kl.
Lebih lanjut, dengan tambahan produksi dari Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, kebutuhan impor bensin Indonesia masih diperkirakan sekitar 20 juta kl.
“Artinya, kalau pasar gasoline global ikut mengetat, Indonesia akan menghadapi kombinasi risiko berupa kenaikan harga impor, meningkatnya biaya pengadaan dan potensi tekanan terhadap neraca perdagangan serta fiskal apabila harga domestik ditahan,” kata Ronny kepada Bloomberg Technoz.
Dia menilai risiko meluasnya krisis diesel ke bensin terbilang cukup besar, karena pasar produk BBM global saling terhubung.
Ronny mencatat saat ini yang mengalami tekanan paling berat merupakan produk middle distillate seperti diesel, Energy Information Administration (EIA) juga memprediksi stok produk kilang AS akan tetap berada di bawah rata-rata lima tahun hingga sebagian besar 202.
Pada saat yang sama, dia mencatat bahwa International Energy Agency (IEA) telah meramalkan pasar diesel dan bensin global bakal sama-sama mengetat akibat gangguan kapasitas kilang dan perdagangan produk.
“Jadi kalau krisis diesel bertahan sampai 2027, tekanannya sangat mungkin merambat ke gasoline, terutama karena satu kilang menghasilkan beberapa produk sekaligus,” tegasnya.
Pasar diesel global—digunakan sebagai bahan bakar truk, peralatan pertanian, dan industri—mengalami pengetatan pasokan yang parah akibat konflik di Timur Tengah yang telah berlangsung selama tujuh bulan, serta larangan pengiriman berkepanjangan yang diberlakukan Rusia setelah diserang serangkaian drone Ukraina terhadap kilang-kilang minyaknya.
Berdasarkan analisis Bloomberg terhadap data General Index, Asia dinilai dalam posisi yang lebih baik dibandingkan dengan Eropa untuk menghadapi krisis pasokan diesel global.
Berdasarkan analisis tersebut, harga kargo spot yang dikirim ke Eropa Barat Laut kini jauh lebih mahal dibandingkan dengan harga di Singapura, pusat utama penyulingan dan perdagangan Asia.
Selisih harga yang semakin melebar—rata-rata mencapai sekitar US$174/metrik ton sepanjang September ini, naik dari US$27 pada Mei—mencerminkan kekuatan relatif kedua pasar tersebut dengan memperhitungkan biaya pengiriman.
Perusahaan penyulingan di seluruh Asia telah berhasil mengamankan sebagian besar pasokan minyak mentah mereka untuk beberapa bulan ke depan, sehingga mereka tetap dapat memproduksi bahan bakar meski terjadi gangguan pengiriman yang berkelanjutan di Teluk Persia.
Di antara para produsen, India telah menyatakan niatnya untuk tetap memenuhi kontrak diesel ke luar negeri, sementara China—biasanya merupakan eksportir utama—telah melonggarkan pembatasan aliran ekspor yang sempat diterapkan pada awal konflik. Di wilayah lain, ekspor Jepang juga diperkirakan akan pulih.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengungkapkan Indonesia berencana masih impor sekitar 600.000 kl solar CN 51 atau kualitas tinggi pada tahun ini. Sementara itu, solar CN 48 atau kualitas rendah, diklaim tak lagi diimpor Indonesia.
Selain itu, pada 2026 Indonesia berencana mengimpor sekitar 1 juta kl avtur atau bahan bakar pesawat serta 3,6 juta kl produk bensin RON 92, 96, dan 97.
"Catatan: pada 2026 Indonesia direncanakan masih akan impor 600.000 kl solar CN51, 1 juta kl avtur, dan 3,6 juta kl produk bensin RON 92, RON 95, dan RON 98,'' sebagaimana tertulis dalam materi paparan Yuliot di EBTKE Connect, Rabu (2/9/2026).
Sepanjang tahun ini, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memprediksi kebutuhan bensin nasional mencapai 38,1 juta kl.
Dari besaran tersebut, sekitar 23,83 juta kl didapatkan dari hasil impor dan 14,27 juta kl dari produksi domestik.
Berdasarkan data Kementerian ESDM per Juni 2025, sepanjang Januari—Juni 2026 impor bensin Indonesia mencapai 61,73% dari kebutuhan nasional.
Kementerian ESDM mencatat sekitar 62% impor BBM Indonesia berasal dari Singapura, kemudian 35% impor BBM berasal dari Malaysia, sementara sisanya sebagian besar dari negara Asean.
(azr/wdh)





























