Geliat penurunan yield di pasar obligasi, yang menandakan adanya aksi beli, mendorong penguatan yang lebih tajam pada rupiah siang ini. Data Bloomberg menunjukkan rupiah menguat 0,35% ke Rp17.888/US$ pada 11.45 WIB.
Penguatan rupiah hari ini sejalan dengan pergerakan mata uang Asia. Rupiah menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam, diikuti baht Thailand, won Korea Selatan, peso Filipina, yen Jepang, yuan offshore, dolar Singapura, dan ringgit Malaysia. Sebaliknya, dolar Taiwan melemah 0,16% bersama dolar Hong Kong, yang lebih terbatas 0,01%.
Namun, penguatan rupiah siang ini ke Rp17.888/US$ belum bisa dibaca sebagai perubahan tren yang bersifat fundamental.
Sejumlah ekonom memperkirakan rupiah masih berpotensi menyentuh level Rp18.000/US$, lantaran rupiah kian sensitif dengan pergerakan yield US Treasury dan tekanan yang datang dari ketidakpastian geopolitik.
Untuk diketahui, bagi pelaku pasar keuangan, terutama pasar pendapatan tetap, Oktober kerap ditandai dengan pelemahan rupiah. Berdasarkan data historis Bloomberg, rupiah spot selama lima tahun terakhir hampir selalu melemah tiap Oktober.
Tahun lalu misalnya, rupiah sepanjang Oktober melemah 0,18%, lalu pada 2024 melemah paling dalam 3,17%. Kemudian pada 2023 terdepresiasi 2,23%, dan pada Oktober 2022 jatuh 1,89%. Hanya pada Oktober 2021 rupiah mampu menguat, itupun relatif terbatas di 0,19%.
(dsp/aji)




























