Pernah Primadona
Jauh sebelumnya, saham DADA sempat melejit puluhan persen pada awal 2026, dengan antrean beli yang amat membludak. Harga saham pun sempat melonjak hingga Rp67/ saham, dengan antrean beli mencapai 6 juta lot lebih. Lonjakan ini diikuti peningkatan jumlah pemegang saham ritel.
Padahal saham DADA sebelumnya bertengger di level gocap hingga perdagangan 3 bulan beruntun, setelah sebelumnya sempat disuspensi dan kembali diperdagangkan pada Oktober 2025 silam.
Dari situ, berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jumlah pemegang saham DADA per 30 November 2025 menyentuh 73.893 investor, yang bertambah ribuan investor atau 3.404 Single Investor Identification (SID) dibanding posisi bulan sebelumnya.
Terlebih berdasarkan data terbaru per Agustus 2026 baru–baru ini, jumlah pemegang saham DADA melonjak mencapai 98.288 SID, atau nyaris 100 ribu investor yang menggenggam saham DADA.
Mengutip catatan Bloomberg Technoz sebelumnya, puluhan ribu investor ritel menjadi korban reli semu saham DADA. Harga saham PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) yang sempat meroket ratusan persen saat ini amblas menuju level harga Rp24/saham.
Reli agresif DADA dimulai ketika rumor tak berdasar menyebut perusahaan akan diakuisisi oleh raksasa investasi Amerika Serikat (AS), The Vanguard Group. Di tengah euforia tersebut, investor institusi perlahan keluar, membuat komposisi pemegang saham DADA saat ini hampir sepenuhnya dikuasai ritel.
Berdasarkan data Bloomberg per Oktober 2026, komposisi kepemilikan saham DADA terdiri dari masyarakat 78,47%, PT Karya Permata Inovasi Indonesia (KPII) 21,53%, dan Komisaris Tjandra Tjokrodiponto sekitar 0,47%.
(fad/naw)





























