Pengerahan tersebut akan memberi Presiden AS Donald Trump lebih banyak opsi jika ia memutuskan untuk meningkatkan serangan terhadap Iran, seperti yang dilaporkan Bloomberg News.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik menembus US$93 per barel setelah menguat hampir 3% pada sesi sebelumnya. Sementara itu, minyak mentah Brent ditutup di US$102,59 per barel sehingga menghidupkan kembali kecemasan terhadap dampak inflasi dari kenaikan harga energi.
Kembali memanasnya konflik di Timur Tengah membuat investor harus mempertimbangkan ancaman inflasi akibat kenaikan harga minyak di tengah tanda-tanda bahwa bank sentral AS Federal Reserve mungkin mengambil pendekatan yang lebih terukur terhadap pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut.
“Kami masih berpandangan bahwa The Fed cenderung menerapkan siklus kenaikan suku bunga terbatas sebanyak dua atau tiga kali dalam skenario dasar,” kata Krishna Guha dari Evercore, melansir Bloomberg News.
Dari dalam negeri, Mirae Asset Sekuritas Indonesia dalam riset terbaru pagi ini menyebut bahwa sentimen dari sisi politik-ekonomi domestik ialah reshuffle kabinet menjadi sumber ketidakpastian jangka pendek. Investor masih perlu menilai kontinuitas kebijakan fiskal, investasi, hilirisasi, daya beli, serta koordinasi antara pemerintah dengan Bank Indonesia (BI).
Kemudian, dinamika nilai tukar rupiah juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Kemarin, rupiah ditutup melemah sekitar 0,4% mencapai Rp17.966 per dolar AS.
“Kondisi rupiah yang masih berada dekat Rp18.000 per dolar AS berpotensi membuat investor lebih berhati-hati terhadap saham-saham yang sensitif terhadap nilai tukar dan arus modal asing,” mengutip riset Mirae Asset Sekuritas.
Riset Phintraco Sekuritas memaparkan, inflasi Indonesia yang tercatat 3,28% year–on–year/yoy pada September 2026, meningkat dari 3,19% yoy pada Agustus, turut membayangi laju IHSG.
Biarpun inflasi headline meningkat, inflasi inti yang masih relatif terkendali menunjukkan tekanan permintaan domestik belum terlalu kuat, sehingga diperkirakan inflasi ini belum memberikan tekanan besar bagi BI untuk mengetatkan kebijakan moneter.
“Namun, kenaikan harga pangan perlu dicermati karena dapat meningkatkan risiko tekanan inflasi ke depan. Dampak inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya daya beli konsumen,” jelas Phintraco.
Secara teknikal, Phintraco memperkirakan IHSG menguji level psikologis 6.000. Jika IHSG ditutup di bawah level tersebut, maka berpotensi akan menguji level berikutnya di 5.800–5.900.
(fad/aji)


























