"Kami masih berpandangan bahwa The Fed cenderung menerapkan siklus kenaikan suku bunga terbatas sebanyak dua atau tiga kali dalam skenario dasar," kata Krishna Guha dari Evercore. "Saat ini, The Fed tidak melihat permintaan yang begitu kuat hingga menimbulkan risiko nyata terjadinya overheating akibat lonjakan permintaan."
"Kami menilai komentar Jefferson sejalan dengan pandangan kami bahwa kenaikan suku bunga pada Oktober kini kecil kemungkinannya terjadi," kata para ekonom Goldman Sachs Group Inc. yang dipimpin Jan Hatzius. "Kami masih memperkirakan kenaikan suku bunga kedua akan dilakukan pada Desember. Namun, kami melihat peluang besar FOMC pada akhirnya menyimpulkan bahwa kenaikan suku bunga tambahan tidak diperlukan."
Pada Kamis (1/10), Wakil Gubernur The Fed untuk Pengawasan Michelle Bowman juga mengatakan bahwa bank sentral membutuhkan lebih banyak waktu untuk memahami tren mendasar perekonomian secara lebih baik.
Sementara itu, Gubernur Federal Reserve Bank of Minneapolis Neel Kashkari mengatakan kepada Bloomberg Television bahwa ia belum mengetahui seberapa tinggi suku bunga perlu dinaikkan untuk meredam kenaikan harga. Ia menambahkan bahwa tugas bank sentral adalah mengendalikan inflasi setelah lima tahun menghadapi guncangan pasokan.
Menjelang rilis data ketenagakerjaan penting, data menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan AS mengumumkan jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) paling sedikit untuk bulan September sejak 2022. Klaim awal tunjangan pengangguran mingguan juga turun tipis ke level terendah sejak Juli, mengindikasikan kondisi pasar tenaga kerja yang masih cukup baik.
Para ekonom memperkirakan laporan ketenagakerjaan yang akan dirilis pada Jumat menunjukkan jumlah tenaga kerja nonpertanian (nonfarm payrolls) bertambah 90.000 orang, setelah mencatat kenaikan bulanan terbesar sejak Maret pada bulan sebelumnya. Sementara itu, tingkat pengangguran diperkirakan bertahan di level terendah dalam setahun, yakni 4,1%.
(bbn)



























