Logo Bloomberg Technoz

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) memperhitungkan nilai perdagangan mencapai Rp11,06 triliun dari sejumlah 32,94 miliar saham yang ditransaksikan, dengan frekuensi menyentuh 1,58 juta kali diperjualbelikan. Tercatat hanya ada penguatan 206 saham, dan sebanyak 450 saham terjadi pelemahan. Sisanya 134 saham stagnan.

Saham–saham teknologi, saham transportasi, dan saham barang baku big caps menjadi pemberat IHSG, dengan masing–masing minus 3,92%, 2,02% dan 1,99%. Adapun saham perindustrian, saham properti, dan saham konsumen primer juga turut melemah pada penutupan perdagangan hari ini.

Saham–saham big caps menjadi pemberat IHSG hingga top losers:

  1. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mengurangi 7,37 poin
  2. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengurangi 6,64 poin
  3. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mengurangi 5,97 poin
  4. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mengurangi 5,92 poin
  5. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mengurangi 5,86 poin
  6. PT DCI Indonesia Tbk (DCII) mengurangi 4,28 poin
  7. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mengurangi 3,71 poin
  8. PT Astra International Tbk (ASII) mengurangi 3,68 poin
  9. PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mengurangi 2,45 poin
  10. PT United Tractors Tbk (UNTR) mengurangi 2,15 poin

Sejumlah saham unggulan LQ45 lainnya juga menjadi pendorong pelemahan IHSG ialah, saham PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) yang turun 4,52%, saham PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) ambles 3,95%, dan juga saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) melemah 3,29%.

Senada, saham PT Indah Kiat Pulp and Paper Corp Tbk (INKP) drop 3,04%, saham PT Bumi Resources  Tbk (BUMI) melemah 2,86%. Saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) terpeleset 2,71% hingga menjadi pemberat IHSG.

Melansir Phillip Sekuritas Indonesia, IHSG melemah senada dengan Bursa Asia yang mengikuti Wall Street semalam ditutup beragam (mixed) seiring dengan imbal hasil (yield) surat utang Pemerintah AS (US Treasury) yang terus merangkak naik, terlihat dari yield SS Treasury note bertenor 10 tahun lompat menjadi 5,3%.

“Yield obligasi mengalami lonjakan bulan lalu karena kenaikan komoditas bahan energi telah memicu kekhawatiran akan inflasi,” mengutip paparan Phillip Sekuritas dalam catatan terbarunya, Kamis (1/10/2026), sehingga investor bersiap menghadapi periode di mana suku bunga akan tetap tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama. 

Suku bunga yang lebih tinggi dipandang negatif bagi pasar saham karena meningkatkan biaya pinjaman bagi dunia usaha maupun konsumen.

Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, imbal hasil Treasury 10 tahun melesat 1 basis poin menjadi 5,3%, mendekati level tertinggi sejak 2007 yang dicapai. Imbal hasil surat utang AS bertenor 30 tahun juga melejit 1 basis poin setelah mencapai level tertinggi sejak 2002 pada perdagangan di New York.

Terlebih lagi, berdasarkan data Bloomberg, harga kontrak berjangka minyak mentah jenis Brent masih tinggi di atas US$100,1 per barel sementara harga Futures minyak mentah jenis WTI mencapai US$91,8 per barel.

(fad)

No more pages