Ronny memandang hal tersebut dapat menjadi bantalan untuk meredam efek dari tekanan di pasar global, jika AS benar-benar menyetop ekspor produk distilatnya.
Dia memandang efek rambatan dari kondisi tersebut tetap bakal menyasar terhadap produk solar CN 51 yang masih diimpor Indonesia.
Ronny memprediksi Indonesia harus mengeluarkan dana yang mahal untuk mendapatkan solar CN 51, jika AS menyetop ekspor solar.
“Jadi apabila ekspor diesel AS dibatasi, segmen solar spesifik seperti ini tetap dapat terkena kenaikan harga dan biaya pengadaan,” ungkapnya.
Pasar Bensin
Sementara itu, bagi produk bensin, Ronny menilai penyetopan ekspor solar oleh AS jika terjadi maka bakal turut berdampak ke pasar bensin.
Dengan begitu, Indonesia tetap berpotensi terpapar dari kenaikan harga bensin dan tingginya biaya logstik.
“Maka percepatan peningkatan kapasitas kilang, diversifikasi sumber impor, pengembangan E20 dan E50, efisiensi konsumsi dan penguatan cadangan BBM strategis menjadi makin penting,” tegas Ronny.
Lebih lanjut, Ronny mencatat selama terjadi gangguan pasokan dari Timur Tengah dan Rusia, ekspor diesel AS justru meningkat untuk mengisi kekosongan pasokan tersebut. Walhasil, jika AS membatasi ekspor solar, tekanan terhadap pasar global berpotensi cukup besar.
Ronny mengungkapkan International Energy Agency (IEA) mencatat ekspor diesel dari Rusia, Timur Tengah, dan Asia turun sekitar 1,3 juta barel per hari secara tahunan, sehingga kondisi tersebut membuat pasokan dari AS semakin penting bagi pasar global.
Ronny menilai jika pasokan AS ikut ditarik dari pasar internasional, negara-negara importir akan berebut pasokan yang lebih terbatas sehingga harga diesel dan crack spread berpotensi meningkat.
“Akibatnya harga diesel dan crack spread berpotensi naik, dan tekanan kemudian dapat menjalar ke harga bensin, avtur serta biaya logistik,” ujarnya.
Bagaimanapun, Ronny memandang pembatasan ekspor juga belum tentu menyelesaikan persoalan di pasar domestik AS.
Dia meyatakan kilang memproduksi solar, bensin, dan avtur secara bersamaan. Jika ekspor solar dibatasi hingga tangki penyimpanan domestik cepat penuh, kilang berpotensi menurunkan tingkat pengolahan minyak mentah.
Lebih lanjut, dia memprediksi penurunan tingkat pengolahan tersebut akan ikut mengurangi produksi bensin dan bahan bakar pesawat atau avtur.
“Jadi kebijakan yang awalnya ditujukan untuk menurunkan harga diesel domestik justru berpotensi memperketat pasar produk BBM lainnya. Ini juga yang menjadi salah satu keberatan industri kilang AS terhadap pembatasan ekspor,” ungkap Ronny.
Adapun, AS sedang menyusun rencana untuk melarang ekspor diesel selama 90 hari. Wacana moratorium tersebut diperkirakan berdampak negatif pada harga bensin dalam negeri, yang pada ujungnya membebani konsumen dan ekonomi AS.
Meski sempat getol dengan wacana tersebut, dalam perkembangannya, Presiden Donald Trump akhirnya mulai melunak. Dia mengisyaratkan minatnya untuk melarang ekspor solar AS telah mereda mengingat risiko lonjakan harga yang tidak diinginkan.
Tak hanya itu, salah satu pejabat tinggi pemerintahan Trump mengindikasikan Eropa mungkin akan segera memasok bahan bakar distilat tersebut ke pasar.
Trump mengatakan kepada wartawan pada Rabu (30/9/2026) waktu Washington bahwa dia masih mempertimbangkan pembatasan penjualan solar ke luar negeri bersama Menteri Energi Chris Wright dan Menteri Dalam Negeri Doug Burgum.
Namun, dia mengakui peringatan mereka bahwa larangan ekspor secara menyeluruh dapat menimbulkan dampak yang tidak diinginkan.
"Mereka berpendapat hal itu akan membantu kondisi solar, tetapi bisa saja menaikkan harga komoditas lain. Saya rasa posisi kita saat ini cukup baik karena harga minyak akan mulai turun," ujar Trump.
"Tampaknya langkah itu akan berdampak negatif pada harga bensin—harga bensin mungkin akan sedikit naik sementara harga solar sedikit turun—dan menurut kami, posisi kita saat ini sangat baik."
Harga solar telah melonjak hingga mencapai rekor tertinggi, sehingga meningkatkan tekanan terhadap Gedung Putih beberapa pekan menjelang pemilihan umum paruh waktu, di mana Partai Republik yang dipimpin Trump berisiko kehilangan kendali atas Kongres.
Di dalam negeri, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengungkapkan Indonesia berencana masih impor sekitar 600.000 kl solar CN 51 atau kualitas tinggi pada tahun ini.
Sementara itu, solar CN 48 atau kualitas rendah diklaim tak lagi diimpor Indonesia.
Pada 2026, Indonesia berencana mengimpor sekitar 1 juta kl avtur atau bahan bakar pesawat serta 3,6 juta kl produk bensin RON 92, 96, dan 97.
Sepanjang tahun ini, Kementerian ESDM memprediksi kebutuhan bensin nasional mencapai 38,1 juta kl.
Dari besaran tersebut, sekitar 23,83 juta kl didapatkan dari hasil impor dan 14,27 juta kl dari produksi domestik.
(azr/wdh)




























