Ekspektasi pengetatan suku bunga AS itu membuat yield US Treasury masih bertahan tinggi. Tenor 10 tahun kembali meninggi dan mencatat kenaikan yield 6 basis poin (bps) di 5,3% pada 08.58 WIB.
Kenaikan US Treasury itu diikuti dengan kenaikan yield obligasi pemerintah Jepang sebesar 5,2 bps ke 3,08%, lalu Australia 6,5 bps ke 5,41%, dan Selandia Baru naik 6,1 bps jadi 5,08%.
Di sisi lain, sejumlah negara di kawasan mencatat pertumbuhan indeks manufaktur pada September yang tergambar dalam Purchasing Manager's Index (PMI) Manufacturing.
PMI Thailand naik paling tinggi menjadi 54,3 dari 53,8, di bawahnya ada Korea Selatan yang mencatat PMI Manufacturing 53,9 dari 52,3 di Agustus, lalu Indonesia yang tercatat 52,4 dari 49,8, dan Vietnam 51,9 dari 53,3.
Namun, sejumlah negara masih mencatat PMI di bawah angka ekspansi. Seperti Myanmar di level 49,1, lalu Malaysia 49,9, dan Filipina 49,6.
Dari domestik, pelaku pasar akan mencermati capaian inflasi September yang diperkirakan naik menjadi 3,3% dari 3,19% pada Agustus.
Inflasi diperkirakan meninggi lantaran dampak El Nino yang menyebabkan gangguan pasokan dan menekan harga pangan. Tekanan inflasi juga kian meluas karena kontribusi kenaikan biaya energi dan transportasi sejak harga bahan bakar minyak (BBM) naik, lantaran tekanan eksternal yang datang dari tingginya harga minyak mentah dunia.
(riset)






























