Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat nilai perdagangan yang mencapai Rp14,03 triliun dari sejumlah 30,12 miliar saham ditransaksikan, dengan frekuensi perdagangan terjadi cuma 1,8 juta kali diperjualbelikan.
Tercatat masih ada penguatan 308 saham, dan sebanyak–banyaknya 360 saham terjadi pelemahan. Sisanya 125 saham stagnan.
Berikut adalah sejumlah saham yang menjadi top laggards, Rabu (30/9/2026):
- PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mengurangi 9,22 poin
- PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) mengurangi 7,41 poin
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengurangi 6,64 poin
- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mengurangi 4,39 poin
- PT Astra International Tbk (ASII) mengurangi 4,09 poin
- PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) mengurangi 2,47 poin
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT) mengurangi 2,33 poin
- PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) mengurangi 2,18 poin
- PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mengurangi 2,04 poin
- PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) mengurangi 1,92 poin
IHSG dibuka menguat pagi hari, tetapi berbalik arah hingga melemah dan terpeleset di zona merah. Pelemahan IHSG tertekan sentimen global maupun domestik, Kenaikan yield obligasi AS yang masih tinggi di atas level 5,2%, level tertinggi dalam beberapa tahun, meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga acuan sebesar 25bps pada pertemuan Oktober 2026.
Kekhawatiran investor belakangan memuncak, terlihat dari semakin meluasnya aksi jual di pasar US Treasury, yang merupakan pasar obligasi pemerintah terbesar dan paling berpengaruh di dunia.
Seperti yang dipapar Phillip Sekuritas Indonesia, yield yang lebih tinggi meningkatkan biaya modal (cost of capital) dan dapat menjadikan obligasi sebagai alternatif yang menarik dibanding saham, sekaligus berpotensi menggerus kemampuan korporasi dalam menghasilkan laba.
Terlebih lagi, investor turut mencermati komentar Gubernur Federal Reserve Bank of New York, John Williams, menyatakan Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) memiliki waktu untuk mengumpulkan lebih banyak informasi sebelum memutuskan kapan akan kembali menaikkan suku bunga kendatipun kenaikan lanjutan mungkin diperlukan jelang penghujung tahun ini.
Di saat John Williams menyatakan perlunya sikap sabar terkait kenaikan suku bunga lebih lanjut, para pejabat tinggi Federal Reserve lainnya mengambil sikap yang lebih hawkish.
Gubernur Federal Reserve Michael Barr menyatakan, kenaikan tambahan kemungkinan besar diperlukan, dan Gubernur Federal Reserve Bank of Chicago Austan Goolsbee mengatakan serupa, membiarkan inflasi tetap berada di atas target 2% selama 5,5 tahun sama saja dengan bermain api.
“Dalam skenario dasar saya, penyesuaian kebijakan lebih lanjut kemungkinan diperlukan untuk memastikan inflasi turun ke target secara tepat waktu,” kata Barr dalam pernyataan yang telah disiapkan untuk acara di Detroit, seperti yang dilaporkan Bloomberg News.
Dari pasar domestik, IHSG tersengat sentimen foreign flow: di mana net foreign sell Rp1,61 triliun amat membebani, menjadi tekanan utama dan membatasi keberlanjutan rebound IHSG.
Dengan foreign net sell, harga masih di bawah MA20, dan MACD bearish, rebound IHSG belum menunjukkan perubahan tren. Area 6.000–6.200 menjadi zona konsolidasi penting, dengan reclaim 6.185–6.240 diperlukan untuk memperkuat momentum rebound.
“Support: 6.019–6.000, kemudian 5.854. Resistance: 6.185 dan 6.240 (gap area). Selama belum mampu reclaim 6.185–6.240, rebound masih cenderung technical rebound dalam tren bearish,” analisis BRI Danareksa Sekuritas dalam riset terbarunya, Rabu (30/9/2026).
(fad/wep)





























