Logo Bloomberg Technoz

Angka keseluruhan mencapai 89% dari level tahun 2025, berdasarkan rata-rata 10 hari yang dihitung selama lima hari terakhir.

Pasar minyak global kini fokus pada volume minyak dan produk yang keluar dari kawasan tersebut seiring konflik antara AS dan Iran memasuki bulan kedelapan.

Tanker minyak di Teluk Persia./dok. Bloomberg

Selain pengiriman melalui Selat Hormuz, Arab Saudi berhasil memulihkan sekitar setengah aliran di pipa Timur-Baratnya, setelah kerusakan terjadi awal bulan ini pada saluran lintas negara tersebut, yang memasok pelabuhan-pelabuhan di Laut Merah.

Arus melalui Selat Hormuz hampir "kembali ke level tertinggi akhir Juni yang mencapai hampir 13 juta barel per hari, terutama dipimpin oleh Arab Saudi," kata JPMorgan.

"Namun, peningkatan volume pengiriman ini tidak boleh disalahartikan sebagai membaiknya faktor keamanan; sebaliknya, hal ini mencerminkan kemampuan industri yang semakin meningkat untuk beroperasi di tengah risiko yang terus berlangsung."

Sementara itu, Goldman Sachs mengatakan ekspor minyak dari Teluk Persia—termasuk dark flows yang dipindahkan secara diam-diam—telah pulih ke angka 23,3 juta barel per hari selama seminggu terakhir, level yang sejalan dengan rata-rata tahun 2025.

"Kami memperkirakan pasar minyak global relatif seimbang pada September," kata para analis Goldman, termasuk Yulia Zhestkova Grigsby, dalam catatan tertanggal 29 September.

Perairan di sekitar Selat Hormuz—menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global—telah menjadi lokasi serangan terhadap kapal-kapal selama berbulan-bulan, seiring upaya Teheran menegaskan kendalinya atas jalur pelayaran tersebut.

Klaim tersebut ditolak oleh AS, yang memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sekaligus membantu kelancaran pelayaran kapal-kapal negara lain.

"Kami mencatat adanya perbedaan antara penurunan ekspor Iran dan kenaikan ekspor produsen lain di Teluk Persia," kata Goldman.

"Ekspor Arab Saudi diperkirakan meningkat lebih dari dua kali lipat pada September dan melampaui rata-rata tahun 2025."

Para pejabat AS berulang kali menyatakan volume pengiriman yang tinggi mengalir melalui Selat Hormuz, meski estimasi dari pihak lain cenderung lebih konservatif.

Bulan ini, Menteri Keuangan Scott Bessent menyebut aliran minyak mencapai 17 juta barel per hari pada saat-saat tertentu, sementara CEO TotalEnergies SE, Patrick Pouyanne memperkirakan 10 juta barel minyak mentah dan produk olahan per hari keluar.

Terlepas dari peningkatan volume kargo tersebut, harga minyak mentah acuan global Brent tetap di jalur untuk mencatatkan kenaikan bulanan ketiga—sebesar sekitar 14%—pada September.

Kontrak berjangka untuk pengiriman November—akan berakhir pada Rabu ini—diperdagangkan naik 0,8% menjadi US$103,43 per barel pada pukul 11.40 waktu Singapura.

"Meski ekspor dari kawasan Teluk telah pulih, harga minyak mentah tetap relatif tertopang dengan baik, dan kami masih khawatir akan potensi eskalasi baru yang bisa merusak lebih banyak infrastruktur energi," kata para analis Goldman.

(bbn)

No more pages