Pemulihan ini berpotensi menjadi katalis bagi kinerja ekspor Indonesia ke depan, setidaknya pada kuartal IV-2026, karena peningkatan produksi di China biasanya akan diikuti oleh kebutuhan bahan baku, hingga energi.
Meski demikian, indeks pesanan baru di China belum sekuat indeks manufakturnya, yang berada di 50,5. Dengan begitu, produksi di China yang mulai menguat itu sepertinya belum diikuti adanya akselerasi permintaan di pasar domestik. Hal ini mengindikasikan bahwa China agaknya belum akan meningkatkan permintaan impornya dalam skala besar.
Sebagai catatan, China merupakan penopang utama ekspor Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor Indonesia ke China mencapai US$34,56 miliar, setara dengan kontribusi 25,68% dari total ekspor Indonesia sepanjang semester I-2026.
(dsp/aji)


























