Logo Bloomberg Technoz

Menurut Aditya, kejelasan harga penting terutama bagi investor institusi yang mempertimbangkan untuk masuk ke suatu saham. Mereka perlu menilai harga masuk, risiko, dan kemungkinan keluar dari posisi investasi berdasarkan transaksi yang dapat diamati di pasar.

Sebelumnya, ketika harga GOTO tertahan di Rp50, likuiditas di pasar reguler menyusut. Mengacu data BEI, sebagian transaksi berlangsung di pasar negosiasi, sementara aktivitas perdagangan reguler tidak sepenuhnya memperlihatkan minat beli dan jual yang ada.

Dengan terbukanya batas harga, Aditya memperkirakan transaksi berpeluang kembali meningkat di pasar reguler. Likuiditas yang lebih baik dapat membantu saham GOTO diperdagangkan berdasarkan perkembangan kinerja perusahaan, setelah tekanan penyesuaian jangka pendek mereda.

“Perdagangan di pasar reguler berlangsung secara terbuka, berkesinambungan, dan lebih mudah diakses. Ini penting terutama bagi investor” ujar Aditya.

Ia menambahkan, saham yang aktif diperdagangkan juga lebih mudah dipertimbangkan oleh kelompok investor yang lebih luas. Bagi sebagian investor institusi, kedalaman pasar dan kemampuan menjual kembali saham merupakan pertimbangan sebelum membangun posisi investasi.

Di sisi lain, Aditya menilai harga saham GOTO saat ini belum mencerminkan sepenuhnya perkembangan fundamental perusahaan. GoTo telah mencatat laba bersih positif dalam dua kuartal berturut-turut, sementara pendapatan dan profitabilitasnya terus menunjukkan perbaikan.

“GoTo sedang membangun perusahaan untuk jangka panjang. Karena itu, investor perlu melihat kemampuan bisnisnya untuk terus tumbuh dan menghasilkan laba, selain mencermati pergerakan harga saham harian,” katanya.

Menurut Aditya, volatilitas masih mungkin terjadi sampai pasar menemukan titik keseimbangan harga baru. Namun, jika likuiditas pasar reguler pulih dan perbaikan kinerja GoTo berlanjut, fundamental perusahaan berpeluang kembali menjadi faktor utama dalam penilaian sahamnya.

(Dok. GOTO)

Sebelumnya Head of Corporate Affairs GoTo, Audrey Petriny, menegaskan harga saham perseroan saat ini tidak mencerminkan fundamental bisnis yang terus menguat.

“Penurunan harga saham lebih disebabkan oleh aspek teknis menyusul aturan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait batas bawah harga saham yang tidak lagi di Rp50,” katanya dalam keterangan resmi.

Dia menegaskan, kinerja bisnis perusahaan terus menunjukkan pertumbuhan positif. Pada kuartal II/2026, perseroan kembali mencetak laba bersih sebesar Rp252 miliar, mencatatkan laba selama dua kuartal berturut-turut. Pendapatan bersih tercatat sebesar Rp5,7 triliun, sementara adjusted EBITDA mencapai lebih dari Rp1 triliun. 

“Kami juga tetap berada di jalur yang tepat untuk mencapai pedoman EBITDA yang disesuaikan untuk setahun penuh sebesar Rp3,2-3,4 triliun. Kami tetap fokus memperkuat kinerja bisnis, yang kami yakini akan menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi para pemegang saham,” katanya.

(red)

No more pages