Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Dekati Rp18.000/US$, Ekonom Sorot Mahalnya Jaga Stabilitas

Pramesti Regita Cindy
30 September 2026 09:40

Nasabah menukarkan uang rupiah ke dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Nasabah menukarkan uang rupiah ke dolar AS di tempat penukaran uang asing di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Ekonom dan pakar kebijakan publik Universitas Pembangunan Negeri Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat menyoroti biaya yang harus ditanggung Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang kembali mendekati level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Sebab menurutnya tekanan terhadap rupiah membuat BI menghadapi dilema antara memperbesar intervensi di pasar valuta asing atau membiarkan rupiah melemah lebih jauh.

"Persoalannya bukan apakah rupiah harus dipertahankan pada angka tertentu, melainkan sampai seberapa jauh biaya mempertahankan stabilitas masih sebanding dengan manfaat ekonomi yang diperoleh," kata Achmad dalam keterangan tertulisnya, Rabu (30/9/2026). 


Lebih lanjut, Achmad berpandang bahwa cara BI dengan mulai mengurangi porsi intervensi langsung melalui pasar spot dan lebih mengandalkan instrumen domestic non-deliverable forward (DNDF) dan non-deliverable forward (NDF) dinilai dapat mengurangi kebutuhan penggunaan cadangan devisa secara langsung.

Namun, menurutnya dengan perubahan instrumen intervensi maka tak serta-merta menghilangkan biaya stabilisasi.