Logo Bloomberg Technoz

Niat AS membatasi ekspor diesel juga diperkirakan mengganggu kestabilan pasokan energi secara global.

Mengingat negara tersebut menyumbang sekitar 20% dari total pasokan kargo laut diesel atau bahan bakar distilat dunia, penghentian ekspor akan memicu kelangkaan di berbagai belahan wilayah.

Kondisi tersebut bakal memaksa pembeli komoditas energi berskala besar dari kawasan Eropa dan Amerika Latin mencari pasokan alternatif.

Mereka diprediksi berbondong-bondong mengalihkan perburuan kargo diesel ke kilang-kilang minyak di Asia, seperti Singapura, India, dan Korea Selatan.

“Perpindahan fokus pembelian tersebut berpotensi menyedot habis pasokan minyak distilat di wilayah Asia Pasifik. Fenomena ini pada akhirnya bakal memicu defisit fisik pasokan bahan bakar diesel di titik perdagangan strategis, seperti Singapura dan Selat Malaka,” jelas Wahyu. 

Ketergantungan Tinggi

Permasalahannya, Indonesia masih memiliki ketergantungan yang cukup tinggi terhadap bahan baku minyak mentah impor untuk memenuhi kebutuhan operasional kilang domestik.

Saat ini kilang-kilang milik Pertamina harus mengimpor crude oil sebanyak 300.000—400.000 barel per hari (bph) guna mengolah bahan bakar.

Lonjakan harga minyak distilat dunia akibat kelangkaan pasokan otomatis memicu kenaikan margin kilang serta mengangkat harga minyak mentah secara global.

Goldman Naikkan Perkiraan Margin Diesel untuk 2027. (Bloomberg)

Situasi ini membebankan biaya pembelian bahan baku yang lebih tinggi kepada Pertamina karena transaksi harus diselesaikan menggunakan greenback atau mata uang dolar AS.

Dampak Meluas

Dengan pertimbangan tersebut, Wahyu berpendapat dampak langsung bagi sektor domestik diprediksi meluas ke ranah industri nonsubsidi, seperti; pertambangan, manufaktur, logistik, dan transportasi laut. 

Seluruh sektor usaha tersebut sangat bergantung pada konsumsi bahan bakar gasoil industri jenis high speed diesel (HSD), Dexlite, maupun Pertamina Dex.

Penetapan harga solar industri di Indonesia secara regulatif mengacu pada indeks Mean of Platts Singapore (MOPS) gasoil 10 parts per milllion (ppm) yang dipadukan dengan nilai tukar rupiah.

Lonjakan indeks MOPS di Singapura akibat pengaruh embargo ekspor diesel oleh AS, terang Wahyu, otomatis mendorong lonjakan harga BBM industri di dalam negeri.

“Meskipun klaim Pemerintah Indonesia mengenai penghentian impor fisik solar tipe CN 48 terbukti akurat untuk konsumsi subsidi, skema pasar global membuat lonjakan harga tetap tidak bisa dihindari,” ungkap Wahyu. 

Lonjakan Harga Diesel Melampaui Kenaikan Harga Minyak Mentah. (Bloomberg)

Tanggung Biaya

Adapun, seluruh pelaku industri nasional dipastikan harus menanggung kenaikan biaya BBM nonsubsidi secara signifikan sebagai imbas dari gejolak harga minyak dunia tersebut.

Untuk diketahui, AS sedang menyusun rencana untuk melarang ekspor diesel selama 90 hari.

Meski telah dibantah oleh Gedung Putih, wacana larangan tersebut diperkirakan berdampak negatif pada harga bensin dalam negeri, yang pada ujungnya membebani konsumen dan ekonomi AS. Terlebih, Presiden Trump dalam berbagai kesempatan mengisyaratkan dukungan terhadap wacana tersebut.

Dua bank raksasa, Morgan Stanley dan Goldman Sachs, memperingatkan larangan ekspor diesel akan membawa dampak yang signifikan.

Mulai dari menekan harga bahan bakar tersebut, hingga akhirnya mengurangi pasokan bensin sekaligus mendongkrak harga ecerannya.

"Dengan asumsi faktor lain tetap sama, harga solar yang lebih rendah akan mendorong kilang mengurangi produksi," ujar pimpinan riset komoditas global Goldman Sachs Group Inc. Daan Struyven dalam wawancara dengan Bloomberg Television, medio pekan lalu.

"Dan karena bensin dan solar biasanya diproduksi secara bersamaan dalam satu paket dengan tingkat fleksibilitas tertentu, hal ini kemungkinan besar akan mengurangi ketersediaan bensin."

Struyven menilai kebijakan tersebut cukup rumit, sehingga Pemerintah AS disarankan untuk mempertimbangkan detail-detail wacana embargo ekspor tersebut secara saksama.

"Sangat penting untuk mempertimbangkan, misalnya, apakah kebijakan ini diterapkan pada berbagai jenis produk? Apakah akan diberlakukan larangan total atau sistem kuota? Bagaimana jangka waktunya? Apakah kebijakan ini akan dikombinasikan dengan langkah-langkah lain yang memberikan insentif bagi kilang untuk terus berproduksi?"

Pandangan serupa diungkap para analis Morgan Stanley. Larangan ekspor diesel ke luar negeri dinilainya akan menyebabkan tangki penyimpanan lokal penuh dalam hitungan pekan, sehingga memaksa kilang AS mengurangi aktivitas.

Tak pelak, produksi bensin akan menurun dan harganya pun naik.

"Larangan ekspor diesel bisa menimbulkan efek yang tak terduga, yakni kenaikan harga bensin, jika kilang-kilang AS mengurangi tingkat operasionalnya," ungkap para analis, termasuk Martijn Rats, dalam catatan tertanggal 23 September.

Para analis Morgan Stanley memperkirakan penerapan larangan diesel akan mengharuskan kilang-kilang AS memangkas kapasitas operasional mereka sekitar 2 juta bph.

Pada tingkat operasional rendah tersebut, meski kilang menyesuaikan produksi untuk memaksimalkan hasil bensin, pasokan bahan bakar tersebut diperkirakan tetap akan turun sekitar 650.000 bph.

Harga diesel di AS mungkin akan turun, tetapi harga di luar negeri akan naik, di mana Eropa dipandang sebagai wilayah yang paling terdampak.

Harga Diesel di Eropa Jauh Lebih Mahal Dibandingkan dengan di Asia. (Bloomberg)

"[Selama larangan di AS] masih menjadi perdebatan, pasar minyak harus bersiap menghadapi volatilitas lebih lanjut," ungkap mereka.

Adapun, di dalam negeri Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan Indonesia telah bebas impor solar, usai berhasil mengembangkan biodiesel B50 yang bahan bakunya berasal dari minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO).

Prabowo mengklaim Indonesia per 1 Juli 2026 sudah tak mengimpor solar, padahal saat ini solar sedang langka di dunia. Dia menyatakan bisa saja Indonesia memiliki uang untuk membeli solar, tetapi tak terdapat pasokannya di pasar.

Dengan demikian, dia kembali membanggakan capaian Indonesia berhasil menerapkan mandatori campuran biodiesel 50% dengan solar atau B50.

“Hari-hari ini solar langka di dunia, kita punya uang pun mungkin tidak ada barangnya. Alhamdulillah, kita sudah bisa produksi solar kita sendiri, saudara-saudara. Dari mana? Dari kelapa sawit, dari tanaman yang Maha Kuasa telah memberi karunia kepada kita,” kata Prabowo dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026).

Prabowo menyatakan kelapa sawit merupakan tanaman ajaib, sebab dapat menghasilkan sedikitnya 57 jenis produk turunan atau derivatif yang mencakup produk energi, pangan, farmasi, hingga kosmetik.

“Profesor-profesor kita yang pintar-pintar, yang benar pintarnya ya, bukan yang profesor tadi itu, dari fakultas-fakultas teknik, kita sudah berhasil bikin solar dari kelapa sawit, dan kita juga nanti akan bikin juga bensin dari batu bara,” ucap Prabowo.

Dalam kesempatan sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menargetkan Indonesia dapat mulai menghentikan impor solar tahun ini.

Dia mengatakan pemerintah bakal memulai stop impor pada solar dengan angka setana 48. Sementara itu, impor solar berkualitas tinggi atau CN 51 akan dihentikan pada semester II-2026.

Bahlil menerangkan langkah menghentikan impor solar itu berdasarkan kapasitas produksi domestik yang bakal naik setelah refinery development master plan (RDMP) di Kilang Balikpapan beroperasi.

Selepas penerapan B50, Bahlil memperkirakan produksi solar domestik bakal surplus sekitar 4 juta metrik ton (mt) nantinya.

"Pada 2026 kita tidak lagi melakukan impor solar C48, informasi ini bagus bagi kita, tetapi tidak bagus bagi importir," kata Bahlil di Kuliah Umum Media Indonesia di Jakarta, Kamis (12/2/2026).

Dalam perkembangannya, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengungkapkan Indonesia berencana masih impor sekitar 600.000 kl solar CN 51 atau kualitas tinggi pada tahun ini.

Selain itu, pada 2026 Indonesia berencana mengimpor sekitar 1 juta kl avtur atau bahan bakar pesawat serta 3,6 juta kl produk bensin RON 92, 96, dan 97.

"Catatan: pada 2026 Indonesia direncanakan masih akan impor 600.000 kl solar CN51, 1 juta kl avtur, dan 3,6 juta kl produk bensin RON 92, RON 95, dan RON 98,'' sebagaimana tertulis dalam materi paparan Yuliot di EBTKE Connect, Rabu (2/9/2026).

(wdh)

No more pages