Akan tetapi, respons pasar dalam lelang surat utang kemarin cukup dingin dengan terpangkasnya penawaran masuk hampir 30%. Respons itu menunjukkan sikap pasar yang masih sangat berhati-hati. Ketidakpastian geopolitik masih menjadi salah satu sumber tekanan di pasar keuangan global saat ini.
Walaupun harga minyak mentah sudah relatif terpangkas, posisinya yang masih tinggi di atas harga asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 masih menjadi sumber risiko. Sebab, kenaikan harga energi itu akan tetap meningkatkan kebutuhan dolar untuk membayar impor serta adanya kekhawatiran inflasi.
Hal ini berpotensi membuat ruang penguatan rupiah tetap terbatas. Pelaku pasar akan mencermati data inflasi dan ekspor-impor yang akan dirilis besok oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
Analisis Teknikal
Secara teknikal nilai tukar rupiah berpotensi rebound hari ini. Adapun rupiah berpotensi menguat ke resistance terdekat di level Rp17.950/US$.
Resistance potensial selanjutnya bisa menuju Rp17.900/US$. Terdapat Rp17.880/US$ sebagai acuan paling optimistis.
Nilai tukar rupiah memiliki level support psikologis di level Rp18.000/US$. Apabila level ini berhasil tembus, maka mengkonfirmasi laju support selanjutnya ke Rp18.050/US$ dan Rp18.100/US$ yang makin menjauhi sMA-50 dan sMA-100.
(riset/aji)






























