Logo Bloomberg Technoz

Washington menuduh kelompok yang didukung Iran di Irak berperan dalam konflik Timur Tengah yang luas dengan melancarkan serangan terhadap negara-negara tetangga atas arahan Teheran. Serangan terbaru terjadi bulan ini yang menyasar jalur pipa minyak utama Arab Saudi.

Pemerintah Baghdad menyatakan sedang berupaya membatasi pengaruh kelompok-kelompok tersebut.

Untuk diketahui, pasukan AS menginvasi Irak pada 2003 untuk menggulingkan diktator Muslim Sunni, Saddam Hussein, lalu menduduki negara tersebut, membentuk pemerintahan yang dipimpin oleh kelompok Syiah, dan memerangi pemberontakan selama bertahun-tahun sebelum akhirnya menarik diri pada akhir 2011.

Mereka kembali kurang dari tiga tahun kemudian untuk membantu pasukan Irak mengalahkan kelompok Sunni, ISIS, dalam perang besar yang berlangsung sejak 2014 hingga 2017.

Jumlah tentara AS yang tewas dalam "Operasi Pembebasan Irak" tercatat sekitar dua kali lipat lebih banyak dibandingkan jumlah korban dalam perang serupa di Afganistan, yang berakhir dengan penarikan pasukan AS secara mendadak pada 2021.

Dalam beberapa tahun terakhir, Irak menjadi satu-satunya negara yang mempertahankan aliansi politik dan militer yang erat dengan AS maupun Iran—dua negara yang terkadang menjadikan wilayah Irak sebagai medan pertempuran proksi.

AS menewaskan komandan tinggi Iran, Qasem Soleimani, melalui serangan di Bandara Baghdad pada 2020. Kelompok-kelompok sekutu Iran berulang kali melancarkan serangan terhadap pangkalan-pangkalan AS, yang terkadang memicu serangan balasan.

Dalam konflik yang melibatkan Iran tahun ini, tujuh dari 18 personel militer AS yang tercatat tewas berada di Irak. Korban terakhir adalah seorang sersan Angkatan Darat yang meninggal saat melakukan peledakan terkendali terhadap pesawat nirawak (drone) di pangkalan dekat Erbil pada Juli.

(ros)

No more pages