Selain memiliki efektivitas tinggi, vasektomi tidak memengaruhi kemampuan ereksi, gairah seksual, maupun produksi hormon testosteron. Dengan demikian, tindakan tersebut tidak ditujukan untuk menghilangkan fungsi seksual pria.
Peran aktif suami sebagai akseptor KB juga dinilai dapat memberikan dampak positif bagi istri. Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi dr. Indra Tarigan mengatakan keterlibatan pria dalam kontrasepsi dapat meningkatkan kepercayaan dan komunikasi dalam rumah tangga sekaligus membantu menjaga kesehatan ibu.
Dia pun membandingkan secara sederhana, beban tindakan antara tubektomi pada wanita atau MOW (Metode Operasi Wanita) dan vasektomi atau MOP (Metode Operasi Pria) pada pria.
"Pada tubektomi merupakan tindakan yang dilakukan dalam rongga perut dan membutuhkan jenis pembiusan tertentu. Sedangkan kalau kita bandingkan dengan vasektomi, ini merupakan tindakan pada saluran sperma yang di luar rongga perut yang seharusnya kalau hitung-hitungan secara medis, ini (vasektomi) jauh lebih minimal risiko yang terjadi dan jauh lebih gampang," jelas Indra.
Program vasektomi pada umumnya diselenggarakan secara gratis oleh Kemendukbangga/BKKBN. Namun, pelaksanaannya tetap menyesuaikan dengan ketersediaan anggaran di masing-masing daerah.
Calon akseptor yang ingin mendapatkan informasi mengenai jadwal pelayanan dapat menghubungi kantor Dinas KB atau penyuluh KB/petugas lapangan KB di wilayah domisili.
Adapun sejumlah syarat calon akseptor vasektomi antara lain memiliki minimal dua anak, anak terkecil berusia minimal lima tahun, mendapat persetujuan dari istri, serta berusia minimal 35 tahun.
(dec/del)






























