Logo Bloomberg Technoz

Deutsche Bank AG memprediksi harga akan melonjak lebih dari 50% hingga melampaui US$22.000 per ton dalam enam bulan ke depan, seiring persaingan pembeli memperebutkan ketersediaan logam yang kian menipis.

Di antara tanda-tanda ketatnya pasokan, biaya pengolahan konsentrat telah merosot lebih dalam ke wilayah negatif, menekan margin pabrik smelter dan mengisyaratkan kelangkaan material hasil tambang.

Menurut Fastmarkets Ltd, indeks biaya pengolahan (treatment charges) untuk transaksi spot turun menjadi minus US$267,40 per ton.

Sementara itu, di China, premi impor Yangshan—yang menjadi indikator permintaan—mendekati level tertinggi sejak tahun 2022.

Kontrak berjangka tiga bulan naik 0,2% menjadi US$14.438 per ton di London Metal Exchange pada pukul 11.58 pagi waktu Singapura. Logam lainnya menunjukkan pergerakan yang beragam, di mana aluminium, seng, dan timbal naik, sementara nikel dan timah relatif stabil.

Di pasar logam besi, harga bijih besi turun selama tujuh hari berturut-turut, turun 0,7% menjadi US$94,20 per ton di Singapura. Hal ini membuat harga berada di jalur menuju penutupan terendah sejak awal Agustus.

(bbn)

No more pages