Yuliot menjelaskan tingginya lonjakan harga minyak mentah global memberi dampak langsung terhadap pasokan domestik, mengingat Indonesia masih bergantung pada impor untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan energi nasional.
Kerek Produksi
Sebagai langkah antisipasi jangka panjang, Kementerian ESDM tengah menggenjot peningkatkan produksi minyak bumi dalam negeri, baik melalui percepatan eksploitasi lapangan minyak dan gas (migas) yang ada maupun kegiatan eksplorasi baru.
"Ada beberapa lapangan dalam negeri yang terindikasi bisa memproduksi sekitar 2.500 hingga 3.000 barel per hari. Potensi dari eksplorasi dan eksploitasi ini akan kita genjot pada 2027 dan 2028, sehingga target produksi di atas 1 juta barel per hari bisa tercapai," tutur Yuliot.
Untuk memuluskan target tersebut, Yuliot menambahkan pemerintah juga akan menyediakan berbagai kemudahan regulasi dan insentif bagi kontraktor kontrak kerja sama (K3S) yang melakukan kegiatan eksplorasi hulu migas di Indonesia.
Untuk diketahui, per perdagangan hari ini, Selasa (29/9/2026), harga minyak mentah dunia kembali melanjutkan tren kenaikan.
Harga minyak Brent untuk penyelesaianNovember naik 1,7% menjadi US$107,10/barel pada pukul 12.10 siang waktu Singapura. Kontrak berjangka November akan berakhir pada Rabu. Kontrak Desember yang lebih aktif diperdagangkan naik 1,9% menjadi US$99,68/barel.
Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November naik 1,7% menjadi US$94,17/barel.
Pendorong utama lonjakan harga minyak hari ini dipicu oleh ketegangan geopolitik yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah.
Pasar merespons penolakan Amerika Serikat terhadap proposal damai yang diajukan Iran, sehingga memupus harapan akan penyelesaian diplomatik cepat dan memicu kembali kekhawatiran atas stabilitas jalur pasokan minyak vital, seperti Selat Hormuz.
Meskipun pengiriman minyak mentah kawasan sempat menunjukkan pemulihan parsial, ketidakpastian politik di wilayah tersebut tetap menahan persepsi pasar akan risiko kelangkaan pasokan.
Tingginya harga minyak dunia di atas level US$100/barel untuk acuan Brent ini memicu kekhawatiran baru terhadap tekanan inflasi energi global, yang turut membayangi penyesuaian harga BBM domestik serta pergerakan nilai tukar mata uang di berbagai negara berkembang.
(wdh)


























