Logo Bloomberg Technoz

KETAHANAN ENERGI

Cegah Krisis BBM 2027, RI Perlu Inovasi Hulu Migas & Tata Subsidi

Sabrina Mulia Rhamadanty
29 September 2026 11:40

Sejumlah pengendara mengantre mengisi BBM di SPBU Pertamina, Jakarta Selatan, Selasa (31/3/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Sejumlah pengendara mengantre mengisi BBM di SPBU Pertamina, Jakarta Selatan, Selasa (31/3/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta – Praktisi senior industri minyak dan gas bumi (migas) sekaligus Presiden Direktur PT Petrogas Jatim Utama Cendana (PJUC) Hadi Ismoyo mengatakan ancaman krisis bahan bakar minyak (BBM) global yang diproyeksi berlanjut hingga 2027 bukanlah skenario yang bisa dipandang sebelah mata.

Dalam kaitan itu, Hadi menegaskan pemerintah bersama pemangku kepentingan energi harus segera mengambil langkah cepat dan terukur melalui dua strategi utama, yaitu; terobosan masif di sektor hulu migas serta penataan penyaluran BBM bersubsidi agar makin tepat sasaran.

“Kondisi Indonesia yang saat ini mengimpor crude oil dan BBM hingga berkisar 800.000 sampai 1 juta barel per hari [bph], berada pada posisi yang sangat rentan jika gejolak pasokan serta deviasi harga minyak mentah terjadi secara mendadak,” ungkap Hadi kepada Bloomberg Technoz, Selasa (29/9/2026). 

Kendaraan mengantri di SPBU PT Pertamina di Bengkulu, Indonesia./Bloomberg-Muhammad Fadli

Hadi menilai terobosan di hulu migas salah satunya dapat difokuskan melalui percepatan program enhanced oil recovery (EOR) berbasis chemical flooding serta injeksi CO₂ di lapangan-lapangan tua (brownfields). 

“Penurunan produksi alamiah [natural decline] lapangan eksisting rata-rata mencapai 15% hingga 20% per tahun, [sehingga] penerapan teknologi EOR secara komersial di kawasan potensial seperti Blok Rokan atau Pertamina EP menjadi keharusan mutlak,” ungkap Hadi.