Logo Bloomberg Technoz

Di sisi lain, biaya produksi terus membengkak akibat lonjakan harga bahan bakar minyak hingga hampir dua kali lipat, ditambah dengan beban kewajiban lain seperti devisa hasil ekspor (DHE) serta kewajiban penggunaan biodiesel 50% atau B50.

Untuk itu, skema DMO perlu segera diselesaikan agar penambang dapat memaksimalkan potensi 75% porsi pasar ekspor secara lebih lincah.

Singgih menambahkan, dampak penahanan harga DMO paling memberatkan pemegang izin usaha pertambangan (IUP) skala kecil dan menengah.

Perusahaan skala kecil dinilai relatif sulit mendapatkan harga jual premium di pasar internasional untuk menutup kerugian di pasar domestik. 

“Namun jelas, bagi IUP skala kecil relatif akan susah mendapatkan harga premium. Jadi memang ada kaitan antara price cap DMO dengan kelincahan ke pasar ekspor,” katanya. 

Penyesuaian Harga

Selain itu, Singgih berpendapat penyesuaian harga DMO juga tidak cukup hanya menjadi ranah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), melainkan membutuhkan keterlibatan Kementerian Keuangan karena berkaitan langsung dengan biaya pokok penyediaan (BPP) listrik dan daya beli masyarakat.

Dia mengkhawatirkan keberlanjutan operasi tambang skala menengah dan bawah akan terancam jika harga DMO tidak segera disesuaikan, terutama bagi lokasi tambang yang memiliki jarak angkut jauh menuju pelabuhan. 

Kondisi tersebut juga berpotensi menekan konservasi cadangan nasional, sebab penambang berisiko memangkas stripping ratio demi menjaga keekonomian tambang.

"Kalau ini terjadi, pada akhirnya mempercepat penipisan cadangan batu bara nasional serta merugikan negara," katanya.

Sebelumnya, di tengah dinamika pasar energi global, volume ekspor batu bara Indonesia tercatat mengalami penurunan signifikan sepanjang pertengahan 2026. 

 Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan volume ekspor batu bara Indonesia secara kumulatif sepanjang Januari hingga Juli 2026 mengalami penurunan sebesar 6,17% secara tahunan.

Pada periode tersebut, volume pengiriman batu bara nasional ke pasar internasional menyusut menjadi 201,47 juta mt, dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai 214,71 juta mt.

Fenomena penurunan volume ekspor ini terjadi di saat harga batu bara global justru bergerak menanjak akibat peningkatan permintaan energi. 

Berdasarkan data komoditas pasar energi dunia yang dihimpun dari DBX Commodities dan bursa Newcastle, harga batu bara acuan Newcastle untuk kontrak September 2026 melonjak hingga menembus level US145 hingga US148/mt

Angka ini mencerminkan kenaikan tajam lebih dari 10% jika dibandingkan dengan harga Agustus 2026 yang sempat berada dikisaran US$131/mt.

(smr/wdh)

No more pages