Logo Bloomberg Technoz

Dia memprediksi pabrik pengolahan baja nirkarat yang menyerap NPI dari IMIP, seperti smelter di China, bakal menjadi pihak yang paling terdampak penurunan produksi tersebut.

“Pabrik yang bergantung pada smelter terdampak dan memiliki sedikit persediaan akan paling merasakan dampaknya. Mereka harus mencari pemasok lain, membayar lebih mahal, atau menunggu pengiriman lebih lama,” kata Andry ketika dihubungi Bloomberg Technoz, Senin (28/9/2026).

Andry menyatakan pasar meramalkan surplus logam nikel dunia pada tahun ini bakal mencapai sekitar 32.000 metrik ton, penurunan produksi di IMIP diprediksi bisa mengurangi surplus tersebut.

Dia juga meyakini lamanya terjadi fenomena El Niño tidak otomatis menentukan lamanya pengurangan produksi, tetapi dia mencatat sejumlah pihak memperkirakan wilayah Sulawesi mulai mengalami hujan pada November—Desember 2026.

“Saya menilai produksi dapat kembali meningkat begitu kebutuhan air smelter terpenuhi. Jika pemulihan berlangsung cepat, kenaikan harga akan tertahan,” tegas dia.

Berdasarkan data dari Kementerian Perdagangan, volume ekspor NPI Indonesia periode Januari—Juli 2025 mencapai 6.628.389 metrik ton, lebih tinggi jika dibandingkan dengan volume ekspor feronikel (FeNi) dalam periode yang sama sebanyak 37.006 metrik ton.

Dari data ini, volume ekspor NPI mendominasi secara mutlak, yakni sekitar 179 kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan volume ekspor feronikel sepanjang periode tersebut.

Adapun, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) ekspor NPI disebut-sebut masuk ke dalam kode HS 72026000 (ferro nickel) yang sepanjang 2025 mencapai 11,56 juta metrik ton.

Adapun, ekspor yang tercatat dalam kode HS 72015000 (alloy pig iron; spiegeleisen), sepanjang 2025 mencapai 191.740 metrik ton.

Pada tahun lalu, ekspor NPI yang tercatat dalam kode HS 72026000 dari pelabuhan Morowali mencapai 1,22 juta metrik ton, dengan negara tujuan ekspor terbesar China.

Sementara itu, ekspor dari pelabuhan Morowali yang tercatat dalam kode HS 72015000 mencapai 13.864 metrik ton dengan tujuan ekspor terbesar China.

Sebelumnya, produksi besi kasar nikel atau NPI dari smelter RKEF di IMIP diramal anjlok 50.000—70.000 metrik ton, jika penurunan laju produksi terus terjadi selama 2 pekan.

Menurut riset pasar Shanghai Metals Market (SMM), smelter RKEF di IMIP mulai mengurangi produksi pada Selasa (22/9/2026).

Outlook produksi nikel Indonesia./dok. BMI

SMM mencatat sejumlah smelter menurunkan tingkat produksi di beberapa lini menjadi sekitar 30%—40% dari kapasitas normal.

“Jika tingkat operasional saat ini berlanjut selama setengah bulan, produksi nickel pig iron berpotensi berkurang sekitar 50.000—70.000 metrik ton berdasarkan metrik tonase fisik,” ungkap SMM dalam riset terbarunya, dikutip Rabu (23/9/2026).

Sebelumnya, PT IMIP mengonfirmasi sejumlah smelter di kawasan mengalami penurunan produksi, termasuk pabrik RKEF yang memproduksi NPI.

Kendati begitu, IMIP mengklaim masih menghitung penurunan produksi dari setiap perusahaan di kawasan dan belum dapat mengonfirmasi produksi NPI dari kawasan IMIP turun sekitar 100.000 metrik ton—seperti yang dikabarkan Bloomberg News.

Saat dimintai konfirmasi, Head of Media Relations PT IMIP Dedy Kurniawan menerangkan penurunan produksi terjadi gegara fenomena El Niño menyebabkan penurunan debit air sungai di sekitar sentra nikel IMIP.

Dia mengungkapkan PT IMIP selaku pengelola kawasan bersama sejumlah tenant tengah melakukan penyesuaian target produksi dan mengupayakan sejumlah alternatif sumber pasokan air cadangan guna meminimalkan dampak.

“Kondisi inilah yang memengaruhi beberapa smelter di Kawasan IMIP mengalami penurunan termasuk pada produksi NPI. Namun, mengenai jumlah penurunannya kami belum mendapatkan angka pasti dari para tenant yang beroperasi di kawasan PT IMIP,” kata Deddy kepada Bloomberg Technoz, Selasa (22/9/2026).

Dia menjelaskan sumber daya air menjadi salah satu penopang operasional smelter RKEF dan high pressure acid leach (HPAL), pabrik produksi kokas, serta pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang menyuplai energi untuk smelter.

Dedy menambahkan, pada proses produksi NPI, air digunakan untuk pendinginan komponen tungku listrik, pencetakan slag, serta sistem pendukung PLTU.

“Meski demikian, dampak tersebut tidak sampai menyebabkan operasional smelter di kawasan IMIP terhenti maupun disertai pengurangan tenaga kerja hingga saat ini,” kata Dedy.

Adapun, PT IMIP dikabarkan telah menginformasikan perusahaan di kawasannya pada akhir pekan lalu untuk mengurangi produksi NPI gegara kekurangan air.

Sebagai perbandingan, kapasitas produksi terpasang smelter nikel di IMIP mencapai sekitar 4,2 juta metrik ton per tahun atau sekitar 350.000 metrik ton per bulan, berdasarkan estimasi Wood Mackenzie.

Dalam kesempatan sebelumnya, Dedy mengamini smelter di kawasan PT IMIP tengah terdampak fenomena El Niño pada tahun ini, sehingga berpotensi menurunkan produksi dari smelter di sentra industri tersebut sekitar 30%—40%.

Dedy tidak menampik fenomena El Niño mengakibatkan terjadinya kekeringan di Morowali, Sulawesi Tengah hingga memengaruhi operasional smelter nikel yang menggunakan air dalam proses produksinya.

“Mengenai faktor El Niño, kondisi cuaca yang lebih kering dan panjang diketahui menyebabkan penurunan potensi curah hujan di Indonesia, termasuk di lingkup Kecamatan Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah sebagai lokasi operasional industri IMIP. Hal ini karena El Niño memengaruhi debit air sungai,” kata Dedy ketika dihubungi Bloomberg Technoz, Rabu (2/9/2026).

(azr/wdh)

No more pages