Penulis utama studi sekaligus ilmuwan es dari Northumbria University, Inggris, Ines Otosaka, mengatakan tiap kenaikan permukaan laut 1 sentimeter bisa membuat sekitar 2-3 juta orang mengalami banjir, setidaknya sekali dalam setahun. Salah satu gletser di Greenland, Jakobshavn, kini mundur hingga sekitar 50 meter per hari, menurut Otosaka.
Penelitian ini melibatkan kolaborasi ilmuwan kutub internasional yang dipimpin European Space Agency. Sebelumnya, para ilmuwan hanya memiliki data satelit Eropa untuk mengamati perubahan lapisan es sejak dekade 1990-an.
Dengan menggabungkan data satelit NASA, peneliti dapat melacak perubahan volume lapisan es Antarktika hingga 1979 dan Greenland hingga 1972.
Pencairan Es Semakin Cepat
Data menunjukkan lapisan es relatif stabil pada 1970-an, 1980-an hingga awal 1990-an. Pencairan kemudian mulai meningkat dan semakin cepat pada 2010.
“Ada tren yang jelas bahwa lapisan es kehilangan lebih banyak massa dan peningkatannya terjadi dari dekade ke dekade, terutama jika melihat es yang mengalir ke laut,” kata Otosaka.
Menurut Otosaka, perubahan tersebut berkaitan dengan perubahan iklim. Bahkan jika pemanasan Bumi bisa dihentikan, dampaknya terhadap lapisan es diperkirakan masih berlangsung selama beberapa dekade.
Penulis studi lainnya, Andrew Shepherd dari Northumbria University, menyebut perubahan pada lapisan es menunjukkan adanya jeda beberapa dekade terhadap dampak pemanasan global.
Kehilangan es sempat melambat pada 2020 hingga 2023. Namun, peneliti mengungkap kondisi itu lebih dipengaruhi perubahan cuaca jangka pendek dan tidak menunjukkan perubahan pada tren jangka panjang.
Otosaka menuturkan pengukuran setelah periode tersebut menunjukkan tren percepatan kehilangan es kembali berlanjut.
Di Antarktika, peningkatan salju di Antarktika Timur membantu menjaga jumlah es tetap stabil. Kondisi tersebut mengimbangi pencairan yang lebih cepat di Lapisan Es Antarktika Barat.
Rignot menyebut perlambatan selama tiga tahun tersebut hanya merupakan perubahan sementara dalam tren jangka panjang. “Tren kenaikan jangka panjang disebabkan oleh iklim dan ancamannya sangat jelas,” kata Rignot.
Ancaman Ketidakstabilan Lapisan Es
Para ilmuwan menemukan sebagian besar kehilangan es terjadi melalui proses dinamis. Proses ini lebih cepat dan aktif dibandingkan pencairan yang disebabkan oleh udara yang lebih hangat.
Ilmuwan es dari New York University, David Holland, menyebut, dominannya kehilangan es melalui proses dinamis menjadi perhatian karena dapat berkaitan dengan ketidakstabilan lapisan es.
Penelitian tersebut menggunakan 45 survei independen dan 27 satelit. Holland mengatakan penggunaan berbagai metode tersebut memperkuat keyakinannya terhadap hasil penelitian. “Tren kenaikan tersebut nyata,” sebut Holland.
(mef/wep)




























