Sementara itu, lahan pertanian seluas 385 meter persegi dimanfaatkan dengan 1.507 polybag dan bedeng tanam untuk membudidayakan daun singkong, selada, kangkung, tauge, dan jahe merah. Total nilai pemanfaatan telur, beras, dan hasil pertanian dalam program ini mencapai sekitar Rp173,5 juta.
Selain produksi pangan, warga binaan juga terlibat dalam fabrikasi kandang baterai ayam. Sebanyak 514 set kandang telah dipesan dan dikirim kepada pihak eksternal dengan nilai penjualan sekitar Rp65 juta. Program ini turut menghasilkan 12 jenis produk dan bentuk hilirisasi serta didukung 11 stakeholder strategis.
Bambang mengatakan program tersebut dirancang untuk mengintegrasikan kegiatan produktif yang sebelumnya berjalan secara terpisah menjadi ekosistem yang menghubungkan produksi, pembinaan, hilirisasi, dan penyerapan hasil. “Lapas tidak hanya menjadi tempat pembinaan, tapi mampu menjadi ruang untuk membangun keterampilan, produktivitas, dan kemandirian melalui optimalisasi potensi yang dimiliki,” ujarnya.
Ke depan, Lapas Narkotika Gunung Sindur akan memperkuat kapasitas produksi, mengembangkan hilirisasi, dan memperluas kemitraan agar program berjalan berkelanjutan. Melalui Lapas Pangan Mandiri, warga binaan diharapkan memperoleh keterampilan, pengalaman kerja, serta bekal kemandirian untuk kembali ke masyarakat sekaligus berkontribusi dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
(tim)
























