Salah satu faktor yang menekan pasokan DRAM adalah meningkatnya produksi HBM, jenis memori berkecepatan tinggi yang banyak digunakan dalam sistem AI. Sedangkan HBM diproduksi menggunakan rantai pasokan DRAM.
Saat produsen mengalihkan lebih banyak kapasitas untuk HBM, kapasitas untuk DRAM konvensional yang digunakan pada PC, smartphone, dan perangkat elektronik lainnya ikut berkurang.
SDxCentral menyebut, produksi HBM membutuhkan kapasitas wafer sekitar tiga kali lebih besar per unit dibandingkan DRAM standar. Kondisi ini membuat peningkatan permintaan High Bandwidth Memory (HBM) berpotensi semakin memperketat pasokan DRAM.
Tekanan pasokan juga diperkuat oleh konsentrasi industri DRAM. Samsung Electronics dan SK Hynix disebut menguasai sekitar dua pertiga pasar DRAM global, sementara Micron menjadi salah satu pemain utama lainnya.
SDxCentral juga mencatat penurunan persediaan produsen. Buffer persediaan yang sebelumnya mencapai sekitar 17 minggu pada 2024 disebut menyusut menjadi hanya beberapa minggu pada akhir 2025.
Peringatan Krisis RAM Sejak Awal Tahun
Kekhawatiran mengenai pasokan memori kemudian tercermin dalam proyeksi lembaga riset. Pada Februari 2026, TrendForce menaikkan proyeksi kenaikan harga kontrak DRAM konvensional pada kuartal pertama menjadi 90%-95% secara kuartalan (qoq), dari proyeksi sebelumnya 55%-60%.
TrendForce menyebut meningkatnya permintaan dari perusahaan penyedia layanan cloud (cloud service provider/CSP), produsen server, dan PC jadi faktor yang memperlebar kesenjangan antara permintaan dan pasokan DRAM.
Dalam laporan Juni 2026, TrendForce mencatat harga kontrak DRAM konvensional melonjak 93%-98% pada kuartal pertama tahun ini dibandingkan kuartal sebelumnya.
Kenaikan tersebut terjadi ketika produsen memori menghadapi permintaan kuat dari sektor server dan AI. Pada saat yang sama, kapasitas produksi semakin banyak dialokasikan untuk produk memori yang digunakan dalam infrastruktur AI.
TrendForce memperkirakan harga kontrak DRAM konvensional naik 58%-63% qoq pada periode kuartal kedua. Memasuki kuartal ketiga, kenaikan harga diperkirakan melambat. Namun, TrendForce masih memperkirakan harga DRAM konvensional naik 13%-18% qoq pada kuartal ketiga 2026.
Tak sampai di situ, tekanan mulai menjalar ke perangkat konsumen. Gartner pada Februari 2026 memperkirakan gabungan harga DRAM dan SSD dapat meningkat 130% hingga akhir 2026 dibandingkan 2025.
Gartner memperkirakan kenaikan biaya memori dapat mendorong harga PC sekitar 17% dan smartphone sekitar 13%. Lembaga riset tersebut juga memperkirakan pengiriman PC global turun 10,4% dan smartphone turun 8,4% pada 2026.
AI, Pemicu Perebutan Pasokan Memori
Permintaan AI jadi salah satu faktor utama di balik ketatnya pasokan memori. Pusat data membutuhkan DRAM dalam jumlah besar untuk menjalankan server AI. Pada saat yang sama, produksi HBM untuk akselerator AI juga menggunakan kapasitas produksi DRAM.
Ketika produsen mengalokasikan lebih banyak kapasitas untuk HBM dan memori server, pasokan DRAM untuk PC, smartphone, dan perangkat elektronik konsumen menjadi semakin terbatas.
Penambahan kapasitas produksi juga tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Lantaran pembangunan fasilitas semikonduktor butuh waktu bertahun-tahun, sehingga pertumbuhan permintaan AI tidak dapat langsung diimbangi dengan tambahan pasokan.
(mef/wep)




























