Logo Bloomberg Technoz

Jaringan perdagangan Glencore yang mengakar kuat dan kecerdasan komersialnya menjadi daya tarik utama bagi Rio—bersama dengan portofolio tembaga yang menguntungkan. Namun, pembicaraan tersebut pada akhirnya dibatalkan.

Rio tidak berniat meniru raksasa perdagangan independen di sektor ini—ungkap sumber-sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan karena diskusi masih berlangsung—tetapi perusahaan ingin melihat perubahan signifikan dalam bisnis saat ini, yang dipimpin oleh COO Bold Baatar.

Misalnya, Rio akan mengembangkan perdagangan pihak ketiga—biasanya menjadi domain para trader spesialis yang cenderung membeli komoditas daripada menambangnya sendiri.

Langkah ini menandai perubahan signifikan dari model bisnis saat ini yang utamanya memasarkan produk sendiri. 

Namun, Rio memandang pergeseran ini sebagai cara untuk mendulang lebih banyak keuntungan dari aset-asetnya, bukan sebagai upaya membangun bisnis perdagangan mandiri, kata para sumber tersebut.

Area yang menjadi fokus meliputi pasar alumina, di mana pasokannya berlebih di wilayah tertentu dan terbatas di wilayah lain.

Rio juga sedang menjajaki peluang perdagangan di pasar tembaga Amerika Utara, di mana perusahaan memiliki kapasitas peleburan yang belum terpakai di fasilitas Kennecott miliknya. Perusahaan berpotensi menambahkan katoda tembaga dan produk terkait seperti asam sulfat.  

Perusahaan juga bersedia mulai menggunakan instrumen derivatif keuangan untuk melakukan lindung nilai (hedging) terhadap posisi dan eksposur risikonya, kata para sumber tersebut, alih-alih mengambil posisi spekulatif yang bertaruh pada arah pergerakan harga komoditas.

"Memasarkan volume produksi dari operasi kami sendiri untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan mitra tetap menjadi fondasi bisnis Rio Tinto," ujar Rio dalam pernyataannya.

"Bersamaan dengan itu, kami terus mengembangkan kemampuan untuk membeli dan menjual produk atas nama pihak ketiga."

"Kami melihat ini sebagai peluang untuk memberikan nilai tambah melalui pemanfaatan infrastruktur secara maksimal, mengoptimalkan penempatan produksi kami sendiri, dan menawarkan lebih banyak pilihan bagi pelanggan."

Perusahaan menolak memberikan komentar lebih lanjut mengenai rencana tersebut.

Rio memusatkan operasi komersialnya ke dalam pusat pemasaran di Singapura pada tahun 2018—di bawah kepemimpinan Trott, yang saat itu menjabat sebagai COO—dalam upaya mengejar ketertinggalan dari perusahaan tambang pesaing seperti BHP Group dan Anglo American Plc yang memiliki divisi pemasaran lebih mapan.

Namun, upaya-upaya tersebut sebagian besar terhenti selama masa pandemi. Anglo bahkan mengubah arah strateginya mulai tahun 2024, saat perusahaan berupaya menangkis tawaran akuisisi.

Di bawah kepemimpinan Trott, yang menjabat sebagai CEO tahun lalu, Rio telah menyusun rencana untuk menyederhanakan bisnis, menjual aset, dan memangkas biaya. Namun, perusahaan juga berupaya meningkatkan laba dari operasinya.

Bloomberg melaporkan pada Juni bahwa perusahaan sudah melakukan pembicaraan dengan raksasa perdagangan minyak Vitol Group untuk membentuk usaha patungan di bidang angkutan dan logistik.

Tim komersial Rio saat ini memiliki sekitar 20 trader dan berencana menambah beberapa orang lagi, kata para sumber tersebut. Kontribusi keuangan dari unit ini juga tidak akan diungkap, tetapi akan dipantau secara internal.

(bbn)

No more pages