Meski produksi dari produsen aluminium terbesar di Timur Tengah ini nantinya pulih, kelancaran pengiriman tetap bergantung pada pembukaan kembali Selat Hormuz, demikian disampaikan EGA dalam sebuah pernyataan pada Rabu (12/8/2026).
Jalur vital di pintu masuk Teluk Persia tersebut sebagian besar telah tertutup sejak AS dan Israel menyerang Iran pada akhir Februari.
Perusahaan terpaksa memangkas produksi setelah pabrik peleburan di Al Taweelah, Abu Dhabi, dihantam rudal dan pesawat nirawak Iran pada tahap awal perang.
Kerusakan tersebut memaksa EGA memberlakukan klausul force majeure untuk menangguhkan sebagian pengiriman dari pabrik yang memiliki kapasitas produksi 1,5 juta ton aluminium per tahun itu.
Kendati demikian, perusahaan tetap melanjutkan ekspor logam dengan memanfaatkan rute alternatif yang menghindari Selat Hormuz.
Sebelumnya, EGA memperkirakan perbaikan kerusakan tersebut akan memakan waktu sekitar satu tahun.
EGA telah mengaktifkan kembali sekitar 18% dari unit tungku produksi (pots) di pabrik peleburan tersebut, meningkat dari 7% pada awal Juli.
Estimasi biaya perbaikan yang dikeluarkan perusahaan menjadi salah satu perkiraan biaya awal untuk rekonstruksi kawasan tersebut.
Perang AS melawan Iran telah mengguncang pasar global dengan memutus arus perdagangan pasokan energi, logam, dan bahan kimia utama dari Teluk Persia, di mana lalu lintas melalui Selat Hormuz masih jauh di bawah tingkat normal sebelumnya.
Negara-negara Teluk, yang selama ini sangat bergantung pada jalur laut untuk sebagian besar ekspor mereka, kini berupaya keras mencari rute alternatif yang tidak melewati Selat Hormuz.
Uni Emirat Arab berencana memperluas pelabuhan di pesisir timurnya; di wilayah tersebut, pusat logistik peti kemas dan minyak di emirat Fujairah telah menyediakan akses langsung ke Samudra Hindia.
Negara-negara seperti Kuwait, Irak, dan Qatar sebagian besar terisolasi dari pasar ekspor utama mereka, sementara Arab Saudi telah mengalihkan lalu lintas pengiriman ke Laut Merah—jalur yang kini kembali menghadapi ancaman dari kelompok Houthi di Yaman yang didukung oleh Iran.
Republik Islam tersebut menyerang berbagai infrastruktur di kawasan itu—termasuk fasilitas produksi aluminium di Bahrain—sebagai balasan atas serangan AS dan Israel terhadap negara tersebut.
EGA pada hari Rabu menyatakan bahwa laba bersih yang disesuaikan untuk periode enam bulan yang berakhir pada bulan Juni naik 34% menjadi US$670 juta dibandingkan tahun sebelumnya, didorong oleh harga aluminium yang lebih tinggi.
(bbn)





























